home masjid

Rahasia Lapar Puasa Ramadhan: Berfungsi sebagai Junnah atau Perisai

Jum'at, 06 Februari 2026 - 17:29 WIB
Ia memisahkan orang yang sekadar lapar dengan orang yang sedang menempa diri menjadi manusia yang lebih mulia di hadapan Pencipta. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Lapar sering kali dipandang sebagai krisis, namun dalam terminologi iman, ia adalah sebuah investasi. Di balik kerongkongan yang kering dan perut yang melilit, tersimpan kontrak teologis yang menjanjikan pemutihan dosa masa lalu.

Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi dalam karyanya, Kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, membedah keutamaan ini bukan sekadar sebagai anjuran, melainkan sebagai kemuliaan yang berdiri di atas pilar keimanan dan harapan akan pahala.

Pintu pengampunan itu terbuka lebar melalui sebuah syarat utama: iman dan ihtisab. Dalam edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap yang diterbitkan Pustaka Ibnu Katsir, dikutip sebuah hadis yang menjadi napas utama bagi setiap orang yang berpuasa:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.

Narasi tentang puasa kian mendalam ketika ia disebut sebagai satu-satunya amal yang diklaim secara eksklusif oleh Tuhan. Jika ibadah lain masih menyisakan ruang bagi pandangan manusia, puasa adalah kesunyian batin antara hamba dan penciptanya. Di sinilah letak kemuliaan yang berbeda. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah hadis qudsi yang monumental:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ, فَإِذَا كَانَ يَوْمَ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ وَلاَ يَجْهَلْ, فَإِذَا شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَليَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ, مَرَّتَيْنِ, وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ, وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya