Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 13 Maret 2026
home masjid detail berita

Rahasia Lapar Puasa Ramadhan: Berfungsi sebagai Junnah atau Perisai

miftah yusufpati Jum'at, 06 Februari 2026 - 17:29 WIB
Rahasia Lapar Puasa Ramadhan: Berfungsi sebagai Junnah atau Perisai
Ia memisahkan orang yang sekadar lapar dengan orang yang sedang menempa diri menjadi manusia yang lebih mulia di hadapan Pencipta. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Lapar sering kali dipandang sebagai krisis, namun dalam terminologi iman, ia adalah sebuah investasi. Di balik kerongkongan yang kering dan perut yang melilit, tersimpan kontrak teologis yang menjanjikan pemutihan dosa masa lalu.

Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi dalam karyanya, Kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, membedah keutamaan ini bukan sekadar sebagai anjuran, melainkan sebagai kemuliaan yang berdiri di atas pilar keimanan dan harapan akan pahala.

Pintu pengampunan itu terbuka lebar melalui sebuah syarat utama: iman dan ihtisab. Dalam edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap yang diterbitkan Pustaka Ibnu Katsir, dikutip sebuah hadis yang menjadi napas utama bagi setiap orang yang berpuasa:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.

Narasi tentang puasa kian mendalam ketika ia disebut sebagai satu-satunya amal yang diklaim secara eksklusif oleh Tuhan. Jika ibadah lain masih menyisakan ruang bagi pandangan manusia, puasa adalah kesunyian batin antara hamba dan penciptanya. Di sinilah letak kemuliaan yang berbeda. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah hadis qudsi yang monumental:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ, فَإِذَا كَانَ يَوْمَ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ وَلاَ يَجْهَلْ, فَإِذَا شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَليَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ, مَرَّتَيْنِ, وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ, وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Setiap amal anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa, di mana puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala atasnya. Puasa itu adalah perisai, jika pada hari yang salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan tidak juga melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, Sesungguhnya aku sedang berpuasa. -dua kali- Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah pada hari Kiamat nanti daripada bau minyak kasturi. Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, jika berbuka, dia bergembira dengan berbukanya dan jika berjumpa dengan Rabbnya dia juga bergembira dengan puasanya.

Interpretasi atas hadis ini menunjukkan bahwa puasa berfungsi sebagai junnah atau perisai. Ia bukan sekadar menahan lapar, melainkan menahan diri dari kegaduhan verbal dan kebodohan perilaku.

Keutamaannya tidak hanya dirasakan pada dimensi akhirat, tetapi juga hadir dalam dua puncak kegembiraan manusiawi: saat membatalkan lapar di waktu Maghrib dan saat berjumpa dengan Tuhan kelak. Bau mulut yang berubah akibat kosongnya lambung, dalam kacamata langit, bertransformasi menjadi aroma yang lebih harum dari minyak kasturi.

Puncak dari segala apresiasi teologis terhadap mereka yang berpuasa adalah sebuah akses eksklusif di surga. Ada sebuah gerbang khusus yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang, seolah Tuhan ingin memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang telah merasakan perihnya dahaga demi ketaatan.

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَيَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصّاَئِمُوْنَ ؟ فَيَقُوْمُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ, فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari Kiamat kelak, tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Dikatakan kepada mereka, Manakah orang-orang yang berpuasa? Kemudian mereka berdiri (untuk memasukinya), tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka, manakala mereka telah masuk, pintu itu ditutup dan tidak ada yang masuk selain mereka.

Keutamaan puasa yang dipaparkan oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi ini membawa pembaca pada satu kesimpulan interpretatif yang tajam: bahwa ibadah ini adalah latihan aristokrasi jiwa. Ia memisahkan orang yang sekadar lapar dengan orang yang sedang menempa diri menjadi manusia yang lebih mulia di hadapan Pencipta.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 13 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:06
Ashar
15:11
Maghrib
18:10
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)