Revolusi Spiritual Malcolm X: Pengalaman Puasa Pertama di Timur Tengah
Miftah yusufpati
Sabtu, 21 Februari 2026 - 04:05 WIB
Setelah kembali ke Amerika, Malcolm X membawa perspektif puasa sebagai alat perjuangan yang lebih damai. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bagi sosok yang pernah menjadi juru bicara paling vokal untuk Nation of Islam, Malcolm X atau yang kemudian dikenal sebagai El Hajj Malik El Shabazz, ibadah haji ke Mekkah pada tahun 1964 bukan sekadar perjalanan fisik. Itu adalah sebuah eksodus spiritual.
Di sela perjalanan yang mengubah hidupnya tersebut, ia bersinggungan dengan ritme ibadah yang belum pernah ia jalani dengan pemahaman seutuh itu sebelumnya: puasa Ramadhan di tengah persaudaraan lintas ras.
Berdasarkan naskah otobiografinya yang disusun bersama Alex Haley, The Autobiography of Malcolm X (1965), puasa perdana yang dilakukan Malcolm pasca-keluarnya dari Nation of Islam merupakan momen pembersihan diri yang radikal.
Jika sebelumnya ia melihat dunia melalui kacamata hitam-putih yang kaku, pengalaman menahan lapar di bawah terik matahari Timur Tengah bersama orang-orang yang ia sebut berkulit paling putih hingga paling hitam telah meruntuhkan tembok kebencian dalam jiwanya.
Malcolm mengenang bagaimana puasa pertama itu bukan sekadar urusan menahan asupan makanan ke lambung. Baginya, itu adalah proses detoksifikasi batin dari racun rasisme yang selama bertahun-tahun ia peluk.
Di Jeddah dan Mekkah, ia duduk bersila bersama para jemaah berambut pirang dan bermata biru yang menyuguhkannya kurma serta air saat waktu berbuka tiba.
Dalam surat-surat yang ia kirimkan ke Amerika, Malcolm mengungkapkan kekagumannya terhadap ketiadaan sekat warna kulit saat semua orang berada dalam kondisi fisik yang sama-sama lemah akibat lapar, namun kuat secara ruhani.
Di sela perjalanan yang mengubah hidupnya tersebut, ia bersinggungan dengan ritme ibadah yang belum pernah ia jalani dengan pemahaman seutuh itu sebelumnya: puasa Ramadhan di tengah persaudaraan lintas ras.
Berdasarkan naskah otobiografinya yang disusun bersama Alex Haley, The Autobiography of Malcolm X (1965), puasa perdana yang dilakukan Malcolm pasca-keluarnya dari Nation of Islam merupakan momen pembersihan diri yang radikal.
Jika sebelumnya ia melihat dunia melalui kacamata hitam-putih yang kaku, pengalaman menahan lapar di bawah terik matahari Timur Tengah bersama orang-orang yang ia sebut berkulit paling putih hingga paling hitam telah meruntuhkan tembok kebencian dalam jiwanya.
Malcolm mengenang bagaimana puasa pertama itu bukan sekadar urusan menahan asupan makanan ke lambung. Baginya, itu adalah proses detoksifikasi batin dari racun rasisme yang selama bertahun-tahun ia peluk.
Di Jeddah dan Mekkah, ia duduk bersila bersama para jemaah berambut pirang dan bermata biru yang menyuguhkannya kurma serta air saat waktu berbuka tiba.
Dalam surat-surat yang ia kirimkan ke Amerika, Malcolm mengungkapkan kekagumannya terhadap ketiadaan sekat warna kulit saat semua orang berada dalam kondisi fisik yang sama-sama lemah akibat lapar, namun kuat secara ruhani.