LANGIT7.ID-Bagi sosok yang pernah menjadi juru bicara paling vokal untuk Nation of Islam, Malcolm X atau yang kemudian dikenal sebagai El Hajj Malik El Shabazz, ibadah haji ke Mekkah pada tahun 1964 bukan sekadar perjalanan fisik. Itu adalah sebuah eksodus spiritual.
Di sela perjalanan yang mengubah hidupnya tersebut, ia bersinggungan dengan ritme ibadah yang belum pernah ia jalani dengan pemahaman seutuh itu sebelumnya: puasa Ramadhan di tengah persaudaraan lintas ras.
Berdasarkan naskah otobiografinya yang disusun bersama Alex Haley, The Autobiography of Malcolm X (1965), puasa perdana yang dilakukan Malcolm pasca-keluarnya dari Nation of Islam merupakan momen pembersihan diri yang radikal.
Jika sebelumnya ia melihat dunia melalui kacamata hitam-putih yang kaku, pengalaman menahan lapar di bawah terik matahari Timur Tengah bersama orang-orang yang ia sebut berkulit paling putih hingga paling hitam telah meruntuhkan tembok kebencian dalam jiwanya.
Malcolm mengenang bagaimana puasa pertama itu bukan sekadar urusan menahan asupan makanan ke lambung. Baginya, itu adalah proses detoksifikasi batin dari racun rasisme yang selama bertahun-tahun ia peluk.
Di Jeddah dan Mekkah, ia duduk bersila bersama para jemaah berambut pirang dan bermata biru yang menyuguhkannya kurma serta air saat waktu berbuka tiba.
Dalam surat-surat yang ia kirimkan ke Amerika, Malcolm mengungkapkan kekagumannya terhadap ketiadaan sekat warna kulit saat semua orang berada dalam kondisi fisik yang sama-sama lemah akibat lapar, namun kuat secara ruhani.
Pengalaman puasa pertama ini memberikan kesadaran baru bahwa rasisme adalah penyakit mental yang bisa disembuhkan melalui kerangka ibadah yang universal. Malcolm melihat puasa sebagai latihan disiplin yang menyamakan kedudukan manusia. Tidak ada raja maupun jelata, tidak ada kulit putih maupun kulit hitam; semua tunduk pada hukum waktu yang sama dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Sumber utama narasi ini merujuk pada buku The Autobiography of Malcolm X: As Told to Alex Haley (1965), diterbitkan oleh Ballantine Books, serta surat-surat pribadinya dari Makkah yang kemudian dipublikasikan dalam berbagai studi sejarah mengenai pergerakan hak sipil Amerika Serikat.
Setelah kembali ke Amerika, Malcolm X membawa perspektif puasa sebagai alat perjuangan yang lebih damai. Ia mulai mengajarkan bahwa pembersihan diri harus dimulai dari pengendalian nafsu pribadi sebelum seseorang mampu mengubah struktur sosial yang tidak adil. Ramadhan pertamanya telah mengubah seorang pemuda penuh amarah menjadi seorang pemikir yang menjunjung tinggi persaudaraan manusia secara global.
(mif)