home masjid

Tradisi Tadarus Ramadhan: Signifikansi Dialektika Al-Quran antara Nabi dan Jibril

Senin, 23 Februari 2026 - 03:58 WIB
Tadarus bukan sekadar ritual pengeras suara di menara masjid. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di bawah temaram lampu masjid dan mushala di seluruh penjuru Nusantara, sebuah suara ritmis terdengar bersahutan sepanjang malam Ramadhan. Suara itu adalah tadarus, sebuah aktivitas yang telah menjadi identitas kultural sekaligus spiritual bagi umat Islam. Namun, di balik keramaian suara yang melantunkan ayat-ayat suci tersebut, tersimpan sebuah esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengejar target khatam. Tadarus adalah jembatan sejarah yang menghubungkan manusia modern dengan momen krusial saat wahyu turun dari langit menuju bumi.

Dalam struktur teologi Islam, Ramadhan dan Al-Quran adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Jika Ramadhan adalah wadahnya, maka Al-Quran adalah isinya. Kaitan organik ini menciptakan sebuah anjuran yang sangat ditekankan bagi setiap muslim untuk memperbanyak tilawah atau membaca Al-Quran. Namun, secara teknis dan interpretatif, syariat memberikan panduan spesifik mengenai bagaimana interaksi dengan teks suci tersebut seharusnya dilakukan, yakni melalui metode tadarus.

Tadarus secara harfiah berasal dari akar kata darasa yang berarti mempelajari atau meneliti. Dalam konteks ibadah, tadarus bukan sekadar membaca secara mandiri, melainkan sebuah proses dialektika: satu pihak membaca kepada pihak lain, dan pihak lain membacakannya kembali untuk dikoreksi atau didalami maknanya. Pola ini bukanlah hasil kreasi budaya, melainkan meniru prototipe interaksi antara Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan Malaikat Jibril.

Landasan fundamental bagi anjuran ini terekam dalam Shahih Bukhari nomor 6 dan Shahih Muslim nomor 2308. Dalam riwayat tersebut, Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan aktivitas tahunan sang pembawa risalah:

أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Sesungguhnya Jibril bertemu Nabi shallallahu alaihi wa sallam setiap malam di bulan Ramadhan dan membacakan (Al-Quran) kepadanya.

Para ulama dunia, termasuk Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab monumental Fathul Bari, memberikan catatan interpretatif yang sangat tajam mengenai hadits ini. Beliau menjelaskan bahwa mudarasah atau tadarus yang dilakukan Nabi dan Jibril pada setiap malam Ramadhan bertujuan untuk memperkokoh hafalan, memverifikasi urutan ayat, dan mendalami makna yang terkandung di dalamnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah masa "murajaah" atau peninjauan kembali atas seluruh panduan hidup yang telah diberikan Tuhan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya