home masjid

Salat Tarawih: Antara Ketakutan Rasulullah dan Gairah Berjamaah Umat Islam dalam Mencari Ampunan

Senin, 23 Februari 2026 - 17:00 WIB
Tarawih adalah jembatan malam yang menghubungkan antara pengampunan masa lalu dan harapan di masa depan. Ilustrasi: Islamic Finder
LANGIT7.ID-Malam-malam di bulan Ramadhan selalu memiliki atmosfer yang berbeda. Ketika sinar matahari tenggelam dan azan Isya berkumandang, jutaan umat Islam berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan sebuah ritual yang telah menjadi tradisi selama belasan abad: salat tarawih.

Di balik kekhusyukan dan saf-saf yang rapat, tarawih menyimpan dimensi sejarah yang unik, sebuah dialektika antara kerinduan hamba kepada Tuhannya dan kekhawatiran seorang Rasul terhadap beban syariat bagi umatnya.

Istilah tarawih secara etimologi berasal dari kata tarwihah yang berarti istirahat. Hal ini merujuk pada kebiasaan para sahabat Nabi terdahulu yang beristirahat sejenak setelah setiap empat rakaat karena panjangnya bacaan Al-Quran yang dibawakan oleh imam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa Wa Rasail menjelaskan bahwa shalat tarawih adalah shalat malam berjamaah pada bulan Ramadhan. Waktunya dimulai sejak selesainya shalat Isya sampai terbitnya fajar.

Anjuran untuk menghidupkan malam Ramadhan ini bukan tanpa landasan yang kuat. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan janji yang sangat memikat bagi setiap Muslim melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan balasan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya