LANGIT7.ID-Malam-malam di bulan Ramadhan selalu memiliki atmosfer yang berbeda. Ketika sinar matahari tenggelam dan azan Isya berkumandang, jutaan umat Islam berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan sebuah ritual yang telah menjadi tradisi selama belasan abad: salat tarawih.
Di balik kekhusyukan dan saf-saf yang rapat, tarawih menyimpan dimensi sejarah yang unik, sebuah dialektika antara kerinduan hamba kepada Tuhannya dan kekhawatiran seorang Rasul terhadap beban syariat bagi umatnya.
Istilah tarawih secara etimologi berasal dari kata tarwihah yang berarti istirahat. Hal ini merujuk pada kebiasaan para sahabat Nabi terdahulu yang beristirahat sejenak setelah setiap empat rakaat karena panjangnya bacaan Al-Quran yang dibawakan oleh imam.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa Wa Rasail menjelaskan bahwa shalat tarawih adalah shalat malam berjamaah pada bulan Ramadhan. Waktunya dimulai sejak selesainya shalat Isya sampai terbitnya fajar.
Anjuran untuk menghidupkan malam Ramadhan ini bukan tanpa landasan yang kuat. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan janji yang sangat memikat bagi setiap Muslim melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِBarangsiapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan balasan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.Namun, sejarah mencatat sebuah anomali yang menarik. Meski fadhilahnya begitu besar, Nabi Muhammad justru pernah sengaja tidak muncul ke masjid untuk memimpin salat ini setelah beberapa malam sebelumnya melakukannya secara berjamaah.
Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anha, pada suatu malam Nabi shalat di masjid dan beberapa orang bermakmum kepada beliau. Malam berikutnya, jamaah bertambah banyak. Namun, pada malam ketiga atau keempat, Nabi tidak keluar dari rumahnya.
Pagi harinya, Rasulullah memberikan penjelasan yang menunjukkan betapa besar rasa kasih sayangnya kepada umat:
قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْAku telah melihat perbuatan kalian. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian, kecuali kekhawatiranku, kalau-kalau itu difardhukan atas kalian.Kisah ini menunjukkan bahwa tarawih sejak awal adalah ibadah yang bersifat sunah muakkad, bukan wajib. Nabi khawatir jika beliau terus-menerus melakukannya secara berjamaah di masjid, Allah akan mewajibkan ibadah tersebut sehingga menjadi beban bagi umat yang memiliki keterbatasan.
Ibadah ini baru kembali diorganisasi secara massal dan sistematis pada masa Khalifah Umar bin Khattab, yang menyatukan orang-orang di belakang satu imam, sebuah tindakan yang disebut Umar sebagai sebaik-baik bidah (inovasi dalam urusan teknis ibadah yang memiliki landasan asal).
Dalam kacamata sosiologis, tarawih menjadi instrumen kohesi sosial bagi umat Islam. Masjid-masjid menjadi ruang publik tempat bertemunya berbagai strata sosial. Namun, di balik keramaian itu, esensi tarawih tetaplah pada aspek iman dan ihtisaban (mengharap rida Allah).
Syaikh Al Utsaimin menekankan bahwa tujuan utama dari shalat malam ini adalah ketenangan jiwa dan sarana refleksi atas dosa-dosa masa lalu.
Karya-karya ulama klasik seperti Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Maarif juga menyebutkan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu bagi jiwa untuk melepaskan diri dari belenggu syahwat.
Salat tarawih berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat daya tahan spiritual tersebut. Dengan berdiri lama dalam shalat, seorang Muslim sedang melatih kesabarannya dan memperdalam hubungannya dengan kalamullah.
Kini, di era modern, tantangan salat tarawih bergeser. Bagi sebagian orang, tarawih terkadang hanya menjadi ritual fisik yang dilakukan dengan terburu-buru demi mengejar jumlah rakaat. Padahal, makna tarwihah atau istirahat itu sendiri mensyaratkan adanya tumakninah atau ketenangan. Tanpa tumakninah, tarawih kehilangan esensi pembersihan jiwanya dan hanya menjadi sekadar rutinitas musiman yang melelahkan fisik.
Tarawih adalah jembatan malam yang menghubungkan antara pengampunan masa lalu dan harapan di masa depan. Melalui setiap rukuk dan sujud yang dilakukan di bawah remang cahaya lampu masjid, umat Islam sebenarnya sedang merayakan kasih sayang Rasulullah yang dahulu memilih untuk tinggal di rumah agar ibadah ini tetap menjadi sebuah pilihan cinta, bukan beban kewajiban yang memberatkan.
(mif)