home masjid

Menelusuri Jejak Kenabian di Bulan Ramadhan: Antara Kepastian Hilal dan Larangan Puasa Hari Syak

Rabu, 25 Februari 2026 - 04:30 WIB
Seorang muslim tidak hanya sekadar menjalankan rutinitas tahunan, tetapi sedang menenun keterikatan spiritual dengan sang Nabi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga yang datang setiap tahun. Bagi umat Islam, bulan ini adalah ruang waktu untuk menyelaraskan diri kembali dengan frekuensi ketuhanan melalui jalur yang telah dibangun oleh sang pembawa risalah.

Kita diajak untuk melihat lebih dalam bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bukan hanya soal formalitas ibadah, melainkan syarat mutlak untuk meraih kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Seseorang tidak akan mampu menapaki jalan yang benar tanpa didasari oleh ilmu yang bermanfaat. Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu dianggap bermanfaat apabila ia berbuah menjadi amalan saleh.

Oleh karena itu, membedah perilaku Rasulullah selama bulan suci menjadi sangat krusial agar ibadah yang dijalankan tidak kehilangan ruhnya. Hal ini selaras dengan pandangan para ulama dunia, termasuk Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam karyanya Majmu Fatawa wa Rasail, yang menekankan pentingnya ketaatan lahir dan batin terhadap sunah.

Salah satu aspek paling mendasar dalam petunjuk Rasulullah adalah cara beliau mengawali bulan Ramadhan. Beliau tidak pernah memulai puasa berdasarkan perkiraan semata. Rasulullah menetapkan awal Ramadhan melalui tiga jalur kepastian: melihat hilal secara langsung, menerima berita dari orang yang terpercaya mengenai munculnya hilal, atau menyempurnakan bilangan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari jika hilal terhalang awan.

Keputusan Rasulullah untuk menerima berita terbitnya hilal meskipun hanya dari satu orang yang terpercaya (khabar ahad) mengandung pelajaran mendalam dalam hukum Islam (usul fikih). Hal ini menunjukkan bahwa dalam urusan ibadah yang menyangkut kepentingan orang banyak, kepercayaan terhadap integritas individu tetap memiliki ruang yang sah selama orang tersebut benar-benar kredibel.

Namun, di balik semangat menyambut Ramadhan, Rasulullah juga memberikan batasan yang tegas untuk menjaga kemurnian ibadah puasa fardu. Beliau melarang umatnya mengawali Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya