home masjid

Rasulullah Buktikan Puasa Bukan Penghalang Kelembutan Terhadap Istri

Kamis, 26 Februari 2026 - 04:30 WIB
Ramadhan menjadi momen alibrasi bagi para kepala keluarga. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Gema Ramadhan sering kali dicitrakan dengan deretan ibadah yang kaku dan pengasingan diri dalam kekhusyukan yang dingin. Namun, jika menelisik lebih dalam ke dalam bilik-bilik rumah tangga Nabi Muhammad di Madinah empat belas abad silam, kita akan mendapati potret yang kontras: sebuah harmoni yang hangat, cair, dan penuh kasih sayang. Di tengah padatnya dakwah, Rasulullah justru menunjukkan bahwa puncak kesalehan seorang lelaki diuji melalui kualitas muamalahnya terhadap keluarga.

Dalam kacamata sosiologi agama, figur Rasulullah adalah antitesis dari maskulinitas yang keras. Beliau adalah orang yang paling baik muamalahnya kepada keluarga, dan pada bulan Ramadhan, intensitas kebaikan itu tidak meredup, melainkan justru semakin meningkat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam karyanya, Majmu Fatawa wa Rasail, menekankan bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin adalah kunci kebahagiaan tertinggi. Ilmu yang bermanfaat mengenai kehidupan privat Nabi ini seharusnya berbuah pada amalan saleh dalam rumah tangga muslim modern.

Salah satu sisi paling humanis yang terekam dalam literatur hadits adalah bagaimana puasa tidak pernah menghalangi Rasulullah untuk mengekspresikan cinta fisik yang santun kepada para istrinya. Aisyah Radhiyallahu anha mengisahkan bahwa Nabi sering kali memberikan kecupan manis kepada istri-istrinya meskipun beliau sedang dalam keadaan berpuasa. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukanlah bulan untuk mematikan perasaan atau menjauhkan diri secara emosional dari pasangan hidup.

Namun, di balik kelembutan itu, tersimpan disiplin spiritual yang luar biasa. Aisyah menambahkan sebuah catatan penting: Beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya di antara kalian. Penjelasan ini menjadi kunci moderasi. Rasulullah mengajarkan bahwa cinta dan kasih sayang tetap harus berjalan, namun tetap dalam koridor pengendalian diri yang sempurna. Beliau memberikan teladan bahwa kedekatan emosional adalah pendukung, bukan penghambat khusyuknya ibadah puasa.

Dalam kitab Zadul Maad, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menguraikan bahwa pola hidup Nabi selama bulan suci merupakan keseimbangan antara hak Allah dan hak hamba. Beliau tidak menjadi pribadi yang pemarah atau sulit didekati hanya karena sedang menahan lapar. Sebaliknya, keramahan beliau menjadi oase bagi anggota keluarganya. Di sinilah letak pentingnya ilmu yang bermanfaat; memahami bahwa ibadah puasa seharusnya melunakkan hati, bukan mengeraskan perangai terhadap orang-orang terdekat.

Banyak orang terjebak dalam dikotomi bahwa untuk menjadi religius, seseorang harus mengabaikan urusan domestik. Rasulullah mematahkan anggapan itu. Beliau tetap membantu pekerjaan rumah tangga dan memberikan perhatian penuh kepada para istrinya, terutama saat energi mulai menurun di pengujung hari. Kebaikan muamalah ini merupakan buah dari pemahaman mendalam terhadap substansi Al-Quran. Sebab, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah, akhlak beliau adalah personifikasi dari firman Allah yang hidup.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya