home masjid

Rasulullah Tingkatkan Intensitas Ibadah dan Perintahkan Keluarga Hidupkan Malam Terakhir

Jum'at, 27 Februari 2026 - 04:30 WIB
Dengan menghidupkan sepuluh malam terakhir, kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi integritas spiritual sepanjang tahun. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bulan Ramadhan bagi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bukanlah maraton yang diakhiri dengan langkah gontai. Sebaliknya, ketika kalender hijriah mulai memasuki sepertiga terakhir bulan suci, ritme ibadah sang pembawa risalah justru mengalami ekskalasi yang luar biasa. Jika pada hari-hari awal Ramadhan beliau sudah dikenal sebagai sosok yang paling dermawan dan tekun, maka pada sepuluh hari pemungkas, kegigihan beliau mencapai titik kulminasi yang sulit ditandingi oleh manusia biasa.

Interpretasi atas perilaku kenabian ini membawa kita pada sebuah kesimpulan sosiologis dan spiritual: bahwa akhir dari sebuah proses jauh lebih penting daripada permulaannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa meneladani kegigihan Rasulullah pada fase ini adalah kunci untuk meraih kebahagiaan tertinggi. Beliau menekankan bahwa seseorang tidak akan bisa mengikuti Rasulullah kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, dan ilmu itu harus membuahkan amalan saleh berupa peningkatan kualitas serta kuantitas ibadah.

Dalam literatur hadits yang disepakati kesahihannya, Aisyah Radhiyallahu anha memberikan kesaksian yang sangat puitis sekaligus faktual mengenai aktivitas domestik dan spiritual Nabi di penghujung Ramadhan.

Aisyah menceritakan bahwa apabila memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah akan mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan zikir, serta membangunkan keluarganya agar tidak terlelap dalam kelalaian.

Istilah mengencangkan ikat pinggang merupakan sebuah metafora yang menunjukkan kesungguhan totalitas. Beliau menjauhkan diri dari urusan tempat tidur (hubungan suami-istri) untuk sepenuhnya fokus pada dialog vertikal dengan Sang Khalik.

Hal ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Zadul Maad, yang menyebutkan bahwa Nabi melakukan iktikaf atau isolasi spiritual di dalam masjid guna menjaga kejernihan hati dari kebisingan dunia.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya