Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 31 Mei 2026
home masjid detail berita

Rasulullah Tingkatkan Intensitas Ibadah dan Perintahkan Keluarga Hidupkan Malam Terakhir

miftah yusufpati Jum'at, 27 Februari 2026 - 04:30 WIB
Rasulullah Tingkatkan Intensitas Ibadah dan Perintahkan Keluarga Hidupkan Malam Terakhir
Dengan menghidupkan sepuluh malam terakhir, kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi integritas spiritual sepanjang tahun. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bulan Ramadhan bagi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bukanlah maraton yang diakhiri dengan langkah gontai. Sebaliknya, ketika kalender hijriah mulai memasuki sepertiga terakhir bulan suci, ritme ibadah sang pembawa risalah justru mengalami ekskalasi yang luar biasa. Jika pada hari-hari awal Ramadhan beliau sudah dikenal sebagai sosok yang paling dermawan dan tekun, maka pada sepuluh hari pemungkas, kegigihan beliau mencapai titik kulminasi yang sulit ditandingi oleh manusia biasa.

Interpretasi atas perilaku kenabian ini membawa kita pada sebuah kesimpulan sosiologis dan spiritual: bahwa akhir dari sebuah proses jauh lebih penting daripada permulaannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa meneladani kegigihan Rasulullah pada fase ini adalah kunci untuk meraih kebahagiaan tertinggi. Beliau menekankan bahwa seseorang tidak akan bisa mengikuti Rasulullah kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, dan ilmu itu harus membuahkan amalan saleh berupa peningkatan kualitas serta kuantitas ibadah.

Dalam literatur hadits yang disepakati kesahihannya, Aisyah Radhiyallahu anha memberikan kesaksian yang sangat puitis sekaligus faktual mengenai aktivitas domestik dan spiritual Nabi di penghujung Ramadhan.

Aisyah menceritakan bahwa apabila memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah akan mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan zikir, serta membangunkan keluarganya agar tidak terlelap dalam kelalaian.

Istilah mengencangkan ikat pinggang merupakan sebuah metafora yang menunjukkan kesungguhan totalitas. Beliau menjauhkan diri dari urusan tempat tidur (hubungan suami-istri) untuk sepenuhnya fokus pada dialog vertikal dengan Sang Khalik.

Hal ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Zadul Maad, yang menyebutkan bahwa Nabi melakukan iktikaf atau isolasi spiritual di dalam masjid guna menjaga kejernihan hati dari kebisingan dunia.

Ekskalasi ibadah ini dilakukan bukan tanpa alasan yang presisi. Target utamanya adalah menjemput Lailatul Qadar, sebuah malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Rasulullah bersabda dalam sebuah riwayat yang terekam dalam Shahih Bukhari:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Bagi Rasulullah, mencari bukan sekadar menunggu, melainkan mengejar dengan aktivitas ruhani yang intens. Beliau mencontohkan bahwa ibadah di malam-malam tersebut harus dilakukan dengan penuh keimanan dan harapan akan ampunan Allah (ihtisaban).

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara perilaku kenabian dengan kecenderungan masyarakat modern yang sering kali justru menyibukkan diri dengan persiapan konsumtif menjelang hari raya di saat Ramadhan mencapai puncaknya.

Ulama dunia seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kesungguhan Nabi di sepuluh hari terakhir merupakan bentuk tarbiyah atau pendidikan bagi umat agar tidak merasa puas dengan amal yang telah dilakukan di awal bulan.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menyadarkan kita bahwa kesempatan untuk meraih ampunan Allah terbuka lebar di garis finis Ramadhan. Jika sang Nabi yang sudah dijamin ampunannya saja masih bersungguh-sungguh hingga kakinya bengkak, maka bagaimana dengan manusia biasa yang sarat dengan dosa?

Pada akhirnya, meneladani perilaku Rasulullah di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah upaya untuk memastikan bahwa kita tidak kehilangan momentum emas. Kebahagiaan lahir dan batin akan diraih ketika seseorang mampu memfokuskan seluruh energinya untuk bersujud, berdoa, dan tilawah di saat dunia mulai menawarkan distraksinya.

Inilah sari pati amalan saleh yang harus diupayakan oleh setiap muslim yang mendambakan kebersamaan dengan Rasulullah di akhirat kelak. Dengan menghidupkan sepuluh malam terakhir, kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi integritas spiritual sepanjang tahun.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 31 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)