home masjid

Ramadhan Bercahaya

Menelusuri Jejak Integrasi Ilmu dan Agama dalam Islam

Kamis, 05 Maret 2026 - 06:00 WIB
Menelusuri Jejak Integrasi Ilmu dan Agama dalam Islam. Foto: tangkapan layar.
Dalam sejarah peradaban manusia, hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama seringkali digambarkan sebagai dua kutub yang saling menjauh. Lewat mimbar Ramadhan Public Lecture, Kepala Paradigma Profetik Masjid Kampus UGM, Dr Arqom Kuswanjono mengajak kita merenung kembali, benarkah agama dan ilmu harus berjalan di jalan yang berbeda?

Mengutip cendekiawan asal Amerika Serikat, Ian Barbour, Arqom Kuswanjono membedah empat tipologi hubungan ilmu dan agama, yakni konflik, independensi, dialog, dan integrasi.

Baca juga:Menemukan Wajah Manusia dalam Cahaya Tauhid

Sejarah mencatat, Barat pernah terjebak dalam fase konflik yang kelam. Di abad pertengahan, ribuan ilmuwan harus meregang nyawa karena pemikirannya dianggap menentang doktrin gereja. Tragedi Galileo Galilei yang mempertahankan teori heliosentris menjadi puncak dari keretakan tersebut.

Akibatnya, lahirlah era Renaissance yang membawa semangat sekularisasi, sebuah upaya memisahkan ilmu dari campur tangan agama demi kemajuan.

Namun, Arqom menekankan sebuah fakta penting, bahwa Islam memiliki pandangan yang berbeda dengan dunia Barat.

"Berbeda dengan Barat, pencerahan dalam dunia Islam justru terjadi ketika ilmu dan agama bersatu, berjalan beriringan tanpa dikotomi," kata Arqom di Masjid Kampus UGM, Rabu (4/3/2026).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya