home masjid

Malam Kedua Puluh Tujuh Adalah Titik Terkuat Terjadinya Lailatul Qadar

Senin, 09 Maret 2026 - 15:00 WIB
Malam kedua puluh tujuh adalah undangan terbuka bagi setiap jiwa yang merindukan pembersihan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di antara lipatan waktu sepertiga terakhir bulan Ramadhan, atmosfer masjid-masjid di seluruh dunia mengalami perubahan drastis. Jika pada awal bulan jamaah masih tampak cair, maka memasuki fase tujuh malam terakhir, ketegangan spiritual mencapai puncaknya. Di tengah misteri yang menyelimuti Lailatul Qadar, sebuah tanggal muncul secara konsisten dalam diskursus teologis sebagai waktu yang paling potensial: malam kedua puluh tujuh. Ia bukan sekadar angka dalam penanggalan hijriah, melainkan sebuah peluang emas yang menuntut kesungguhan total dari setiap hamba yang merindu rida Ilahi.

Dalam risalah bertajuk Lailatul Qadar yang disusun oleh Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah, ditekankan bahwa pencarian malam kemuliaan ini memerlukan strategi spiritual yang intensif. Muhammad Ibn Syami menunjuk pada sebuah konsensus kecil di kalangan sahabat mengenai kecenderungan kuat waktu terjadinya malam tersebut. Di antara tujuh malam terakhir, perhatian khusus diberikan pada malam kedua puluh tujuh sebagai titik temu keberkahan.

Landasan argumen ini berpijak pada kesaksian yang sangat kuat dari seorang sahabat Nabi yang dikenal sebagai ahli Al-Quran, Ubay bin Kaab Radhiyallahu anhu. Dalam sebuah riwayat yang dikukuhkan oleh Imam Muslim, Ubay bin Kaab menyampaikan sumpah yang menggetarkan nurani:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Demi Allah aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh.

Pernyataan Ubay bin Kaab ini memberikan arah navigasi yang jelas bagi umat Islam di tengah kerahasiaan Lailatul Qadar. Mengapa malam kedua puluh tujuh begitu istimewa? Sejumlah mufasir dan ulama dunia, termasuk Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, mencoba membedah rahasia ini. Beberapa di antaranya menggunakan pendekatan isyarat teks, seperti jumlah kata dalam surat al-Qadr yang berjumlah tiga puluh kata, di mana kata hiya (malam itu) jatuh pada urutan ke-27. Meskipun metode ini bersifat ijtihadi, ia memperkuat dorongan psikologis bagi kaum muslimin untuk meningkatkan eskalasi ibadah pada malam tersebut.

Namun, Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah mengingatkan bahwa kepastian yang disampaikan Ubay bin Kaab tidaklah meniadakan pentingnya malam-malam ganjil lainnya. Fokus pada malam kedua puluh tujuh seharusnya menjadi puncak dari rentetan ibadah yang sudah dibangun sejak malam ke-21. Semangat yang dibangun adalah semangat ijtihad atau bersungguh-sungguh. Ibadah yang dilakukan bukan sekadar formalitas gerakan shalat, melainkan sebuah dialog batin yang dalam, permohonan ampunan yang tulus, dan pengabdian yang melampaui kepentingan duniawi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya