home masjid

Memperbanyak Doa Pemaafan untuk Meraih Keberkahan Lailatul Qadar

Senin, 09 Maret 2026 - 16:00 WIB
Doa yang diajarkan kepada Aisyah ini adalah simbol dari kerendahan hati manusia yang paling jujur. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam sunyinya sepertiga terakhir bulan Ramadhan, atmosfer spiritual di berbagai penjuru dunia Islam mengalami eskalasi yang luar biasa. Di balik deretan shalat malam yang panjang dan tilawah yang tak terputus, ada satu fragmen kecil namun sangat vital yang menjadi denyut nadi pencarian Lailatul Qadar. Fragmen itu adalah sebuah doa, sebuah permohonan yang ringkas namun memiliki kedalaman teologis yang menembus batas-batas kemanusiaan. Di malam yang nilainya melampaui seribu bulan, doa ini menjadi jembatan paling intim antara hamba yang berlumur khilaf dan Pencipta yang Maha Pemaaf.

Sebagaimana diurai dalam risalah Lailatul Qadar yang disusun oleh Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah, doa ini bukanlah produk kreativitas manusia biasa. Ia lahir dari sebuah dialog intelektual dan spiritual antara Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anha dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Muhammad Ibn Syami menukil sebuah riwayat sahih dari Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah yang menjadi fondasi utama dalam menghidupkan malam-malam ganjil.

Aisyah pernah bertanya kepada Nabi mengenai apa yang sebaiknya diucapkan jika ia meyakini tengah berada dalam dekapan Lailatul Qadar. Jawaban Nabi sangat presisi, beliau memerintahkan untuk mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau senang memaafkan, maka ampunilah (maafkanlah) aku.

Secara linguistik dan interpretatif, penggunaan kata Al Afuwwu dalam doa ini memiliki signifikansi yang sangat mendalam dibandingkan dengan kata ampunan biasa. Dalam literatur ulama dunia, seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam Al Maqshad al-Asna, kata Al Afuwwu merujuk pada penghapusan dosa secara total hingga bekas-bekasnya hilang dari catatan amal. Jika ampunan (maghfirah) sering kali diartikan sebagai penutupan dosa, maka pemaafan (afwu) adalah penghapusan jejak yang membuat pelakunya tidak lagi merasa malu di hadapan Tuhan pada hari pembalasan kelak.

Pilihan kata ini menunjukkan betapa strategisnya doa tersebut di malam Lailatul Qadar. Malam yang di dalamnya segala urusan yang penuh hikmah dirinci, sebagaimana disebut dalam surat Ad Dukhan, memerlukan prasyarat batin berupa kesucian dari beban masa lalu. Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah menekankan bahwa dengan memperbanyak doa ini, seorang Muslim sedang melakukan upaya negosiasi spiritual tingkat tinggi. Ia mengakui sifat dasar manusia yang sering alfa, sembari memuji sifat Tuhan yang sangat mencintai tindakan pemaafan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya