Silaturahmi Lintas Negara
Dua Tradisi, Satu Kemenangan: Memotret Wajah Idulfitri di Madinah Lewat Mata Mahasiswa Indonesia
Esti setiyowati
Selasa, 10 Maret 2026 - 09:16 WIB
Fauzan Dhiyaurrahman, mahasiswa asal Indonesia yang telah bermukim di Madinah sejak tahum 2013. Foto: dok pribadi.
Idulfitri selalu datang membawa kegembiraan bagi umat Islam di seluruh dunia. Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa Ramadhan, hari kemenangan itu menjadi momentum kembali kepada fitrah, membersihkan hati, mempererat silaturahmi, serta meneguhkan kembali nilai-nilai kebaikan.
Di Indonesia, gema takbir sering kali disertai tradisi mudik, saling berkunjung dari rumah ke rumah, serta suasana kekeluargaan yang hangat. Namun bagaimana suasana Lebaran di salah satu kota suci umat Islam, Madinah al-Munawwarah? Apakah kemeriahannya sama dengan di Tanah Air?
Fauzan Dhiyaurrahman, warga Indonesia yang telah menetap di Madinah sejak 2013, memiliki pengalaman tersendiri merasakan Idulfitri di Kota Nabi. Ia datang ke Madinah untuk menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah setelah menamatkan pendidikan di pesantren di Soreang, Bandung, Jawa Barat.
Baca juga: Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan
Pria berusia 33 tahun itu awalnya tidak pernah membayangkan akan melanjutkan studi ke luar negeri. Ketertarikannya terhadap ilmu agama, khususnya ilmu hadis, tumbuh ketika ia menempuh pendidikan di pesantren. Kini, Fauzan tengah menyelesaikan program doktoralnya di universitas tersebut.
Meski telah lebih dari satu dekade tinggal di Madinah, Fauzan mengaku baru tiga kali menjalani Ramadhan sekaligus merayakan Idulfitri di sana. Beberapa tahun sebelumnya, bulan Ramadhan bertepatan dengan masa liburan musim panas, sehingga ia memilih pulang ke Indonesia untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Dari pengalamannya, Fauzan melihat bahwa secara umum tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara Ramadhan di Madinah dan di Indonesia. Perbedaan paling terasa adalah pada durasi waktu puasa.
Di Indonesia, gema takbir sering kali disertai tradisi mudik, saling berkunjung dari rumah ke rumah, serta suasana kekeluargaan yang hangat. Namun bagaimana suasana Lebaran di salah satu kota suci umat Islam, Madinah al-Munawwarah? Apakah kemeriahannya sama dengan di Tanah Air?
Fauzan Dhiyaurrahman, warga Indonesia yang telah menetap di Madinah sejak 2013, memiliki pengalaman tersendiri merasakan Idulfitri di Kota Nabi. Ia datang ke Madinah untuk menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah setelah menamatkan pendidikan di pesantren di Soreang, Bandung, Jawa Barat.
Baca juga: Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan
Pria berusia 33 tahun itu awalnya tidak pernah membayangkan akan melanjutkan studi ke luar negeri. Ketertarikannya terhadap ilmu agama, khususnya ilmu hadis, tumbuh ketika ia menempuh pendidikan di pesantren. Kini, Fauzan tengah menyelesaikan program doktoralnya di universitas tersebut.
Meski telah lebih dari satu dekade tinggal di Madinah, Fauzan mengaku baru tiga kali menjalani Ramadhan sekaligus merayakan Idulfitri di sana. Beberapa tahun sebelumnya, bulan Ramadhan bertepatan dengan masa liburan musim panas, sehingga ia memilih pulang ke Indonesia untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Dari pengalamannya, Fauzan melihat bahwa secara umum tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara Ramadhan di Madinah dan di Indonesia. Perbedaan paling terasa adalah pada durasi waktu puasa.