home global news

MBG Dikritik Publik: Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Salah Sasaran dan Berpotensi Mubazir

Sabtu, 14 Maret 2026 - 14:11 WIB
MBG Dikritik Publik: Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Salah Sasaran dan Berpotensi Mubazir
Oleh: Anwar Abbas

LANGIT7.ID-
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menuai perhatian luas dari masyarakat. Program yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia ini justru memunculkan sejumlah kritik karena dinilai tidak tepat sasaran serta berpotensi menimbulkan berbagai persoalan baru di lapangan.

Salah satu kritik utama terhadap program MBG adalah terkait penggunaan anggaran negara yang dianggap terlalu besar namun tidak fokus pada kelompok yang benar-benar membutuhkan. Jika tujuan utama program ini adalah mengatasi stunting, maka pendekatan yang lebih efektif seharusnya diarahkan kepada anak-anak yang paling rentan mengalami kondisi tersebut, yaitu mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu atau fakir miskin.

Dengan memfokuskan program pada kelompok tersebut, pemerintah dinilai dapat menjalankan program secara lebih efisien. Mengingat jumlah penduduk miskin di Indonesia berkisar sekitar 10 persen dari total populasi, maka penyediaan makanan bergizi sebenarnya cukup difokuskan pada kelompok tersebut. Kebijakan yang lebih terarah ini berpotensi menghemat hingga sekitar 90 persen anggaran program.

Penghematan dana tersebut dapat dialihkan untuk berbagai kebutuhan mendesak lainnya yang juga sangat penting bagi masyarakat. Dana tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, mempercepat pengentasan kemiskinan, hingga memperbaiki infrastruktur yang rusak. Di banyak daerah, kondisi jalan yang berlubang dan rusak masih menjadi persoalan serius yang membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor.

Selain persoalan sasaran program, pelaksanaan MBG di lapangan juga menghadapi sejumlah masalah lain yang memicu kekhawatiran publik. Dalam beberapa kasus, makanan yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai tidak mencerminkan standar makanan bergizi sebagaimana tujuan awal program tersebut.

Tidak jarang pula ditemukan makanan yang sudah tidak layak konsumsi atau diragukan dari sisi kebersihan dan kesehatan. Kondisi seperti ini tentu bertentangan dengan semangat program yang seharusnya meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya