Abdul Mu’ti Ulas Makna Lailatulqadar Menurut Quraish Shihab di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Tim langit 7
Sabtu, 14 Maret 2026 - 22:17 WIB
Abdul Muti Ulas Makna Lailatulqadar Menurut Quraish Shihab di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
LANGIT7.ID-Jakarta; Pembahasan mengenai Lailatulqadar kembali menjadi perhatian umat Islam pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti melalui unggahan di Instagram pribadinya @abe_mukti membagikan penjelasan mengenai makna Lailatulqadar serta sejumlah pandangan yang berkaitan dengan malam yang diyakini penuh kemuliaan tersebut.
Dalam penjelasan yang ia tuliskan, Abdul Mu’ti mengutip pandangan M Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Madhu'i Atas Pelbagai Persoalan Umat (1996) mengenai pengertian Lailatulqadar. Menurut Quraish Shihab, istilah tersebut terdiri atas dua kata, yaitu lail yang berarti malam dan qadar yang memiliki beberapa pengertian.
Pertama, qadar bermakna penetapan dan pengaturan. Dalam pengertian ini, Lailatulqadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Kedua, qadar berarti kemuliaan. Lailatulqadar disebut sebagai malam yang mulia, tidak ada yang menandingi dan melebihi kemuliaannya, sekaligus menjadi malam ketika Allah menurunkan Al-Qur’an.
Ketiga, qadar juga dimaknai sebagai sempit. Dalam pengertian ini, Lailatulqadar digambarkan sebagai malam yang sempit karena para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan kesimpulan dari penjelasan tersebut sebagaimana dikemukakan Quraish Shihab.
"Quraish Shihab menyimpulkan bahwa ketiga pengertian tersebut dapat menjadi benar karena malam itu adalah malam mulia, yang apabila dapat diraih maka ia menetapkan masa depan manusia dan bahwa pada malam itu malaikat turun ke bumi membawa ketenangan serta kedamaian," ujar dia, dikutip Sabtu (14/3/2026).
Dalam penjelasan tersebut juga disebutkan bahwa jika Lailatulqadar dikaitkan dengan peristiwa diturunkannya Al-Qur’an, maka peristiwa tersebut sudah tidak ada lagi. Hal itu karena pewahyuan Al-Qur’an berakhir setelah Rasulullah SAW wafat.
Dalam penjelasan yang ia tuliskan, Abdul Mu’ti mengutip pandangan M Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Madhu'i Atas Pelbagai Persoalan Umat (1996) mengenai pengertian Lailatulqadar. Menurut Quraish Shihab, istilah tersebut terdiri atas dua kata, yaitu lail yang berarti malam dan qadar yang memiliki beberapa pengertian.
Pertama, qadar bermakna penetapan dan pengaturan. Dalam pengertian ini, Lailatulqadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Kedua, qadar berarti kemuliaan. Lailatulqadar disebut sebagai malam yang mulia, tidak ada yang menandingi dan melebihi kemuliaannya, sekaligus menjadi malam ketika Allah menurunkan Al-Qur’an.
Ketiga, qadar juga dimaknai sebagai sempit. Dalam pengertian ini, Lailatulqadar digambarkan sebagai malam yang sempit karena para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan kesimpulan dari penjelasan tersebut sebagaimana dikemukakan Quraish Shihab.
"Quraish Shihab menyimpulkan bahwa ketiga pengertian tersebut dapat menjadi benar karena malam itu adalah malam mulia, yang apabila dapat diraih maka ia menetapkan masa depan manusia dan bahwa pada malam itu malaikat turun ke bumi membawa ketenangan serta kedamaian," ujar dia, dikutip Sabtu (14/3/2026).
Dalam penjelasan tersebut juga disebutkan bahwa jika Lailatulqadar dikaitkan dengan peristiwa diturunkannya Al-Qur’an, maka peristiwa tersebut sudah tidak ada lagi. Hal itu karena pewahyuan Al-Qur’an berakhir setelah Rasulullah SAW wafat.