Tinjauan Fikih: Mengapa Ucapan Taqabbalallahu Minna Wa Minka Menjadi Tradisi Utama Para Sahabat?
Miftah yusufpati
Senin, 16 Maret 2026 - 03:00 WIB
Ucapan selamat hari raya adalah jembatan yang menghubungkan kesalehan pribadi dengan kedamaian sosial. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah keriuhan Idul Fitri, saat aroma hidangan lebaran menyeruak dan pakaian terbaik dikenakan, ada satu ritual lisan yang tak pernah absen: saling bertukar ucapan selamat. Di Indonesia, frasa mohon maaf lahir dan batin telah menjadi standar umum, namun jika kita menelusuri lorong waktu menuju masa awal Islam, kita akan menemukan sebuah prototipe ucapan yang lebih bersifat teologis daripada sekadar sosiologis. Ucapan selamat hari raya bukan hanya soal perayaan kemenangan, melainkan sebuah diplomasi langit yang berisi permohonan agar segala peluh selama Ramadhan tidak berakhir sia-sia.
Dalam risalah bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, disebutkan bahwa pemberian ucapan selamat hari raya memiliki akar sejarah yang kuat pada tradisi para sahabat Nabi Radhiyallahu anhum. Menariknya, sebagaimana dicatat oleh Dr. Ashim dalam materi yang diterbitkan oleh IslamHouse, hingga saat ini belum ditemukan riwayat yang valid dan berasal langsung dari lisan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengenai redaksi khusus ucapan selamat hari raya dalam hadits shahih. Namun, absennya riwayat langsung dari Nabi tidak mengurangi legalitas praktik ini dalam bingkai syariat.
Otentisitas praktik ini bersandar pada perilaku para sahabat yang menjadi saksi hidup bagaimana agama ini dijalankan. Salah satu riwayat yang paling valid berasal dari Jubair bin Nufair, yang menuturkan bahwa para sahabat Rasulullah jika saling bertemu pada hari raya Ied, sebagian mereka mengucapkan kepada sebagian yang lain:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Semoga Allah menerima amal kami dan kalian.
Redaksi ini bukan sekadar kata-kata manis. Ia adalah sebuah pengakuan akan keterbatasan manusia dalam beribadah. Setelah sebulan penuh berpuasa, shalat malam, dan mengeluarkan zakat, para sahabat tidak terjebak dalam euforia kesombongan seolah-olah surga telah digenggam. Sebaliknya, mereka saling mendoakan agar Allah berkenan menerima amal tersebut. Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani, seorang pakar hadits terkemuka dalam dunia Islam, memberikan catatan dalam kitabnya bahwa status sanad dari riwayat ucapan tersebut adalah hasan. Hal ini memberikan legitimasi yang kokoh bagi umat Islam untuk melestarikan tradisi saling mendoakan tersebut.
Ulama dunia seperti Imam Ahmad bin Hanbal memberikan perspektif yang menarik mengenai hal ini. Dalam literatur yang dirujuk oleh para peneliti fikih, Imam Ahmad cenderung tidak memulai mengucapkan selamat kepada orang lain, namun jika ada yang mendahuluinya, beliau akan menjawab dengan ucapan yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa ucapan selamat hari raya dipandang sebagai bagian dari adab pergaulan (muamalah) yang memiliki muatan ibadah. Prinsip utamanya adalah membalas penghormatan dengan yang setimpal atau lebih baik.
Dalam risalah bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, disebutkan bahwa pemberian ucapan selamat hari raya memiliki akar sejarah yang kuat pada tradisi para sahabat Nabi Radhiyallahu anhum. Menariknya, sebagaimana dicatat oleh Dr. Ashim dalam materi yang diterbitkan oleh IslamHouse, hingga saat ini belum ditemukan riwayat yang valid dan berasal langsung dari lisan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengenai redaksi khusus ucapan selamat hari raya dalam hadits shahih. Namun, absennya riwayat langsung dari Nabi tidak mengurangi legalitas praktik ini dalam bingkai syariat.
Otentisitas praktik ini bersandar pada perilaku para sahabat yang menjadi saksi hidup bagaimana agama ini dijalankan. Salah satu riwayat yang paling valid berasal dari Jubair bin Nufair, yang menuturkan bahwa para sahabat Rasulullah jika saling bertemu pada hari raya Ied, sebagian mereka mengucapkan kepada sebagian yang lain:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Semoga Allah menerima amal kami dan kalian.
Redaksi ini bukan sekadar kata-kata manis. Ia adalah sebuah pengakuan akan keterbatasan manusia dalam beribadah. Setelah sebulan penuh berpuasa, shalat malam, dan mengeluarkan zakat, para sahabat tidak terjebak dalam euforia kesombongan seolah-olah surga telah digenggam. Sebaliknya, mereka saling mendoakan agar Allah berkenan menerima amal tersebut. Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani, seorang pakar hadits terkemuka dalam dunia Islam, memberikan catatan dalam kitabnya bahwa status sanad dari riwayat ucapan tersebut adalah hasan. Hal ini memberikan legitimasi yang kokoh bagi umat Islam untuk melestarikan tradisi saling mendoakan tersebut.
Ulama dunia seperti Imam Ahmad bin Hanbal memberikan perspektif yang menarik mengenai hal ini. Dalam literatur yang dirujuk oleh para peneliti fikih, Imam Ahmad cenderung tidak memulai mengucapkan selamat kepada orang lain, namun jika ada yang mendahuluinya, beliau akan menjawab dengan ucapan yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa ucapan selamat hari raya dipandang sebagai bagian dari adab pergaulan (muamalah) yang memiliki muatan ibadah. Prinsip utamanya adalah membalas penghormatan dengan yang setimpal atau lebih baik.