Mengenal Perkara Bidah di Hari Raya: Ulama Soroti Cara Bertakbir yang Dibuat-buat
Miftah yusufpati
Senin, 16 Maret 2026 - 03:30 WIB
Takbir Idul Fitri adalah proklamasi kemenangan batin setiap individu atas hawa nafsu. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pagi hari satu Syawal adalah simfoni pengagungan. Di setiap sudut kota hingga pelosok desa, kalimat Allahu Akbar membubung tinggi, memecah kesunyian fajar. Namun, jika kita mengamati lebih jeli di balik pengeras suara masjid atau di tengah kerumunan lapangan, sebuah pola unik sering muncul: takbir yang dikumandangkan secara berbalas-balasan antar-kelompok, menyerupai paduan suara yang terstruktur. Fenomena ini, meski tampak semarak dan menggetarkan, memicu sebuah diskusi krusial dalam koridor fikih mengenai batasan antara kreativitas tradisi dan ketetapan syariat.
Dalam risalah bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, muncul sebuah peringatan yang tajam mengenai pentingnya menjaga ibadah hari raya dari perkara yang tidak memiliki landasan kuat atau yang dalam istilah agama disebut bidah. Dr. Ashim menekankan bahwa Idul Fitri adalah ibadah, dan dalam ibadah, prinsip utamanya adalah mengikuti tuntunan (ittiba). Beliau menukil sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang memperingatkan bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam urusan agama adalah kesesatan.
Secara spesifik, Dr. Ashim menyoroti model takbir berjamaah yang terbagi menjadi dua kelompok. Dalam praktik ini, kelompok pertama akan melantunkan takbir, sementara kelompok kedua mendengarkan dan baru menjawab setelah kelompok pertama selesai. Model ini sering disebut sebagai al masmuah. Menurut perspektif yang diterbitkan oleh IslamHouse ini, cara semacam itu tergolong muhdatsah atau perkara yang dibuat-buat karena tidak ditemukan contohnya pada masa generasi awal Islam yang paling mengerti tentang adab hari raya.
Interpretasi atas peringatan ini bukanlah upaya untuk mematikan syiar, melainkan sebuah ajakan untuk mengembalikan takbir ke khitahnya sebagai zikir personal. Semestinya, setiap individu bertakbir secara mandiri dengan penuh penghayatan. Jika dalam praktiknya suara-suara pribadi tersebut akhirnya terdengar berbarengan secara alami, hal itu tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi titik kritis adalah ketika takbir tersebut diatur sedemikian rupa menjadi sebuah pertunjukan suara yang mekanis, di mana satu pihak harus diam menunggu giliran pihak lain.
Ulama dunia seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Majmu Fatawa wa Rasail juga memberikan penjelasan serupa. Beliau menjelaskan bahwa takbir adalah ibadah lisan bagi setiap individu muslim. Dengan bertakbir secara mandiri, seorang hamba memiliki ruang yang lebih luas untuk meresapi makna kebesaran Allah di dalam hatinya. Pengaturan takbir model koor atau berbalas-balasan dikhawatirkan dapat mengalihkan fokus dari dzikir itu sendiri menjadi sekadar urusan harmonisasi nada dan ritme.
Lebih jauh, Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Bari mencatat bahwa para sahabat Nabi keluar menuju lapangan shalat sambil bertakbir sendiri-sendiri. Kebersamaan mereka terjadi karena kesamaan niat dan waktu, bukan karena pengorganisasian suara yang sistematis. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan syiar Islam tidak terletak pada kemegahan aransemen suara, melainkan pada keikhlasan setiap lisan yang memuja Tuhan secara tulus.
Pesan dari DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti ini menjadi cermin bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali setiap gerak ibadah di hari raya. Di tengah arus modernitas yang cenderung menyukai seremoni yang megah dan terorganisir, ada kebutuhan untuk kembali pada kesederhanaan sunnah. Menjauhi kemungkaran dan perkara bidah di hari raya bukan berarti mengurangi kegembiraan, melainkan memastikan bahwa kegembiraan tersebut berada di atas fondasi ketaatan yang murni.
Dalam risalah bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, muncul sebuah peringatan yang tajam mengenai pentingnya menjaga ibadah hari raya dari perkara yang tidak memiliki landasan kuat atau yang dalam istilah agama disebut bidah. Dr. Ashim menekankan bahwa Idul Fitri adalah ibadah, dan dalam ibadah, prinsip utamanya adalah mengikuti tuntunan (ittiba). Beliau menukil sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang memperingatkan bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam urusan agama adalah kesesatan.
Secara spesifik, Dr. Ashim menyoroti model takbir berjamaah yang terbagi menjadi dua kelompok. Dalam praktik ini, kelompok pertama akan melantunkan takbir, sementara kelompok kedua mendengarkan dan baru menjawab setelah kelompok pertama selesai. Model ini sering disebut sebagai al masmuah. Menurut perspektif yang diterbitkan oleh IslamHouse ini, cara semacam itu tergolong muhdatsah atau perkara yang dibuat-buat karena tidak ditemukan contohnya pada masa generasi awal Islam yang paling mengerti tentang adab hari raya.
Interpretasi atas peringatan ini bukanlah upaya untuk mematikan syiar, melainkan sebuah ajakan untuk mengembalikan takbir ke khitahnya sebagai zikir personal. Semestinya, setiap individu bertakbir secara mandiri dengan penuh penghayatan. Jika dalam praktiknya suara-suara pribadi tersebut akhirnya terdengar berbarengan secara alami, hal itu tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi titik kritis adalah ketika takbir tersebut diatur sedemikian rupa menjadi sebuah pertunjukan suara yang mekanis, di mana satu pihak harus diam menunggu giliran pihak lain.
Ulama dunia seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Majmu Fatawa wa Rasail juga memberikan penjelasan serupa. Beliau menjelaskan bahwa takbir adalah ibadah lisan bagi setiap individu muslim. Dengan bertakbir secara mandiri, seorang hamba memiliki ruang yang lebih luas untuk meresapi makna kebesaran Allah di dalam hatinya. Pengaturan takbir model koor atau berbalas-balasan dikhawatirkan dapat mengalihkan fokus dari dzikir itu sendiri menjadi sekadar urusan harmonisasi nada dan ritme.
Lebih jauh, Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Bari mencatat bahwa para sahabat Nabi keluar menuju lapangan shalat sambil bertakbir sendiri-sendiri. Kebersamaan mereka terjadi karena kesamaan niat dan waktu, bukan karena pengorganisasian suara yang sistematis. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan syiar Islam tidak terletak pada kemegahan aransemen suara, melainkan pada keikhlasan setiap lisan yang memuja Tuhan secara tulus.
Pesan dari DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti ini menjadi cermin bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali setiap gerak ibadah di hari raya. Di tengah arus modernitas yang cenderung menyukai seremoni yang megah dan terorganisir, ada kebutuhan untuk kembali pada kesederhanaan sunnah. Menjauhi kemungkaran dan perkara bidah di hari raya bukan berarti mengurangi kegembiraan, melainkan memastikan bahwa kegembiraan tersebut berada di atas fondasi ketaatan yang murni.