Kelahiran Abdullah bin Zubair: Patahkan Isu Sihir Kemandulan Muhajirin di Madinah
Miftah yusufpati
Senin, 23 Maret 2026 - 15:58 WIB
Kelahiran Abdullah bin Zubair pada Syawal 1 Hijriah bukan sekadar peristiwa biologis. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Madinah pada bulan Syawal tahun pertama Hijriah adalah sebuah kuali yang mendidih oleh ketidakpastian. Di balik persaudaraan kaum Anshor dan Muhajirin yang baru saja dijalin, tersimpan ketegangan bawah tanah yang dimainkan melalui perang urat saraf. Kaum Yahudi Madinah, yang merasa dominasi sosial dan ekonominya terancam oleh kedatangan Muhammad SAW, meluncurkan desas-desus yang menyasar aspek paling sensitif dalam budaya Arab: keturunan.
Sebuah narasi gelap disebarkan ke penjuru kota. Kaum Muslimin pendatang dari Mekah, konon, telah terkena sihir yang membuat mereka mandul. Klaim ini bukan sekadar ejekan, melainkan senjata psikologis untuk meruntuhkan moral kaum Muhajirin yang tengah berjuang beradaptasi di tanah asing. Selama beberapa bulan sejak kepindahan mereka, belum ada satu pun bayi Muhajirin yang lahir ke dunia. Kecemasan mulai merayap di gang-gang Madinah, hingga tiba saatnya Asma binti Abu Bakar memasuki masa persalinan.
Asma, putri Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dijuluki Dzatun Nithaqain (Pemilik Dua Sabuk), sedang dalam perjalanan hijrah yang berat saat mengandung tua. Begitu tiba di Quba, sebuah wilayah di pinggiran Madinah, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abdullah. Kelahiran Abdullah bin Zubair bin Awwam pada bulan Syawal itu segera berubah menjadi parade kemenangan spiritual.
Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah menggambarkan suasana heroik saat itu. Bayi Abdullah dibawa ke hadapan Rasulullah SAW. Beliau kemudian melakukan tahnik, menghaluskan sepotong kurma dengan mulut beliau lalu menyuapkannya ke mulut bayi tersebut. Itulah nutrisi pertama yang masuk ke tubuh Abdullah: air liur sang Nabi. Suara takbir membahana di langit Madinah, bukan untuk merayakan kelahiran seorang anak semata, melainkan untuk merayakan runtuhnya propaganda sihir yang selama ini menghantui.
Kelahiran ini memiliki dimensi politik yang sangat kuat. Dalam struktur masyarakat patriarki Arab, keberlangsungan klan bergantung pada lahirnya anak laki-laki. Jika kaum Muhajirin benar-benar mandul, maka gerakan Islam di Madinah akan mati secara alami dalam satu generasi. Abdullah bin Zubair hadir sebagai bukti empiris bahwa janji Allah lebih nyata daripada klaim-klaim mistis kaum penentang.
Secara interpretatif, peristiwa ini menandai transisi Syawal dari sekadar bulan perayaan pasca-Ramadan menjadi bulan konsolidasi eksistensial. Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Quran menekankan bahwa setiap ujian yang menimpa kaum mukmin selalu diikuti dengan pembuktian kekuasaan Allah. Kelahiran Abdullah adalah simbol bahwa kaum Muhajirin telah "berakar" di Madinah. Mereka bukan lagi tamu yang numpang lewat, melainkan penduduk yang siap melahirkan sejarah baru.
Tak hanya itu, nasab Abdullah yang mempertemukan dua keluarga utama—Abu Bakar sebagai kakek dan Zubair bin Awwam sebagai ayah—memperkuat fondasi kepemimpinan di Madinah. Kelak, Abdullah akan tumbuh menjadi sosok yang tangguh, pemberani, dan memiliki integritas politik yang tinggi, bahkan sempat memimpin kekhalifahan di Mekah pada masa depan yang bergejolak.
Sebuah narasi gelap disebarkan ke penjuru kota. Kaum Muslimin pendatang dari Mekah, konon, telah terkena sihir yang membuat mereka mandul. Klaim ini bukan sekadar ejekan, melainkan senjata psikologis untuk meruntuhkan moral kaum Muhajirin yang tengah berjuang beradaptasi di tanah asing. Selama beberapa bulan sejak kepindahan mereka, belum ada satu pun bayi Muhajirin yang lahir ke dunia. Kecemasan mulai merayap di gang-gang Madinah, hingga tiba saatnya Asma binti Abu Bakar memasuki masa persalinan.
Asma, putri Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dijuluki Dzatun Nithaqain (Pemilik Dua Sabuk), sedang dalam perjalanan hijrah yang berat saat mengandung tua. Begitu tiba di Quba, sebuah wilayah di pinggiran Madinah, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abdullah. Kelahiran Abdullah bin Zubair bin Awwam pada bulan Syawal itu segera berubah menjadi parade kemenangan spiritual.
Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah menggambarkan suasana heroik saat itu. Bayi Abdullah dibawa ke hadapan Rasulullah SAW. Beliau kemudian melakukan tahnik, menghaluskan sepotong kurma dengan mulut beliau lalu menyuapkannya ke mulut bayi tersebut. Itulah nutrisi pertama yang masuk ke tubuh Abdullah: air liur sang Nabi. Suara takbir membahana di langit Madinah, bukan untuk merayakan kelahiran seorang anak semata, melainkan untuk merayakan runtuhnya propaganda sihir yang selama ini menghantui.
Kelahiran ini memiliki dimensi politik yang sangat kuat. Dalam struktur masyarakat patriarki Arab, keberlangsungan klan bergantung pada lahirnya anak laki-laki. Jika kaum Muhajirin benar-benar mandul, maka gerakan Islam di Madinah akan mati secara alami dalam satu generasi. Abdullah bin Zubair hadir sebagai bukti empiris bahwa janji Allah lebih nyata daripada klaim-klaim mistis kaum penentang.
Secara interpretatif, peristiwa ini menandai transisi Syawal dari sekadar bulan perayaan pasca-Ramadan menjadi bulan konsolidasi eksistensial. Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Quran menekankan bahwa setiap ujian yang menimpa kaum mukmin selalu diikuti dengan pembuktian kekuasaan Allah. Kelahiran Abdullah adalah simbol bahwa kaum Muhajirin telah "berakar" di Madinah. Mereka bukan lagi tamu yang numpang lewat, melainkan penduduk yang siap melahirkan sejarah baru.
Tak hanya itu, nasab Abdullah yang mempertemukan dua keluarga utama—Abu Bakar sebagai kakek dan Zubair bin Awwam sebagai ayah—memperkuat fondasi kepemimpinan di Madinah. Kelak, Abdullah akan tumbuh menjadi sosok yang tangguh, pemberani, dan memiliki integritas politik yang tinggi, bahkan sempat memimpin kekhalifahan di Mekah pada masa depan yang bergejolak.