home masjid

Gelar Khalilurrahman: Mengapa Hanya Ibrahim dan Muhammad yang Menyandangnya?

Kamis, 26 Maret 2026 - 17:00 WIB
Gelar Khalilurrahman yang disandang Ibrahim dan Muhammad menjadi pengingat bagi setiap mukmin bahwa puncak dari keberagamaan adalah cinta. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam konstelasi teologi Islam, terminologi cinta memiliki tingkatan yang sangat presisi. Di antara sekian banyak istilah untuk menggambarkan kedekatan makhluk dengan Khalik, ada satu derajat yang menempati kasta tertinggi: al-khullah. Ini bukan sekadar rasa sayang biasa, melainkan cinta yang telah merasuk ke dalam sela-sela hati, tidak menyisakan ruang bagi selain yang dicintai. Dalam sejarah kemanusiaan, hanya ada dua sosok yang tercatat secara otoritatif dalam teks suci sebagai pemegang gelar ini: Ibrahim Alaihissalam dan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Mengenal pribadi Ibrahim melalui kacamata Al-Quran berarti membedah esensi penyerahan diri yang total. Allah Azza wa Jalla menegaskan kedudukan istimewa ini dalam surah An-Nisa ayat 125:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya (khalilan). (QS. An-Nisa: 125).

Penyebutan Ibrahim sebagai Khalilullah (kekasih Allah) dalam ayat ini merupakan legitimasi atas kualitas spiritual yang melampaui zaman. Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Quran al-Azhim menjelaskan bahwa al-khullah adalah bentuk kecintaan yang paling sempurna. Menurut beliau, Ibrahim mencapai derajat ini karena ketaatannya yang tanpa syarat saat menghadapi berbagai ujian yang mengoyak nalar kemanusiaan, mulai dari perintah penyembelihan putra hingga pengusiran keluarga ke lembah yang tandus.

Menariknya, keutamaan ini tidak berhenti pada sosok Ibrahim semata. Berabad-abad kemudian, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam juga diangkat menuju maqam yang sama. Dalam sebuah riwayat dari Jundub bin Abdillah yang tercatat dalam Sahih Muslim nomor 532, Rasulullah menegaskan paralelisme spiritual ini:

وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجEL جَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya