Sejarah Keramahtamahan Ibrahim: Manusia Pertama yang Membangun Adab Menjamu Tamu
Miftah yusufpati
Jum'at, 27 Maret 2026 - 15:00 WIB
Al-Quran menegaskan bahwa Ibrahim adalah sosok yang utuh. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah peradaban manusia sering kali mencatat penemuan teknologi atau wilayah baru sebagai tonggak kemajuan. Namun, dalam cakrawala spiritual Islam, salah satu capaian kemanusiaan yang paling fundamental justru terekam di sebuah meja makan di Palestina ribuan tahun silam. Di sana, Nabi Ibrahim Alaihissalam mengukir sejarah sebagai manusia pertama yang membangun tradisi keramahtamahan terhadap tamu, sebuah fragmen yang kelak menjadi standar moral universal bagi umat beriman.
Fragmen ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan divalidasi oleh wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Dalam surah Adz-Dzariyat ayat 24-28, Allah Azza wa Jalla secara retoris bertanya untuk menarik perhatian pembaca atas peristiwa tersebut:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu para malaikat) yang dimuliakan? (QS. Adz-Dzariyat: 24).
Interpretasi atas ayat ini menyuguhkan sebuah drama etika yang sangat halus. Dikisahkan, para tamu tersebut masuk menemui Ibrahim tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka adalah sosok-sosok yang tidak dikenal oleh Ibrahim. Namun, alih-alih bersikap curiga atau menutup pintu, Ibrahim menyambut mereka dengan salam yang setimpal. Di sinilah kepribadian Ibrahim sebagai al-mukramin (yang dimuliakan) sekaligus pemulia tamu mulai terlihat.
Kepiawaian Ibrahim dalam menjamu tamu menjadi rujukan utama bagi para ulama dunia. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan beberapa poin penting mengenai adab Ibrahim saat itu. Pertama, Ibrahim pergi menemui keluarganya secara diam-diam (ragha ila ahlihi) untuk menyiapkan hidangan. Tindakan ini merupakan puncak adab; agar tamu tidak merasa terbebani atau merasa merepotkan tuan rumah.
Kedua, hidangan yang disajikan bukanlah sisa makanan atau hidangan ala kadarnya. Ibrahim membawa faja'a bi 'ijlin samin, seekor anak sapi yang gemuk yang telah dimasak. Bagi masyarakat agraris saat itu, menyembelih ternak terbaik untuk orang asing adalah pengorbanan finansial yang besar. Namun bagi Ibrahim, tamu adalah amanah langit yang harus dipenuhi dengan standar terbaik.
Fragmen ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan divalidasi oleh wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Dalam surah Adz-Dzariyat ayat 24-28, Allah Azza wa Jalla secara retoris bertanya untuk menarik perhatian pembaca atas peristiwa tersebut:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu para malaikat) yang dimuliakan? (QS. Adz-Dzariyat: 24).
Interpretasi atas ayat ini menyuguhkan sebuah drama etika yang sangat halus. Dikisahkan, para tamu tersebut masuk menemui Ibrahim tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka adalah sosok-sosok yang tidak dikenal oleh Ibrahim. Namun, alih-alih bersikap curiga atau menutup pintu, Ibrahim menyambut mereka dengan salam yang setimpal. Di sinilah kepribadian Ibrahim sebagai al-mukramin (yang dimuliakan) sekaligus pemulia tamu mulai terlihat.
Kepiawaian Ibrahim dalam menjamu tamu menjadi rujukan utama bagi para ulama dunia. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan beberapa poin penting mengenai adab Ibrahim saat itu. Pertama, Ibrahim pergi menemui keluarganya secara diam-diam (ragha ila ahlihi) untuk menyiapkan hidangan. Tindakan ini merupakan puncak adab; agar tamu tidak merasa terbebani atau merasa merepotkan tuan rumah.
Kedua, hidangan yang disajikan bukanlah sisa makanan atau hidangan ala kadarnya. Ibrahim membawa faja'a bi 'ijlin samin, seekor anak sapi yang gemuk yang telah dimasak. Bagi masyarakat agraris saat itu, menyembelih ternak terbaik untuk orang asing adalah pengorbanan finansial yang besar. Namun bagi Ibrahim, tamu adalah amanah langit yang harus dipenuhi dengan standar terbaik.