Mayjen TNI Faridah Faisal, Perempuan Pertama Yang Bikin Sejarah Baru di Peradilan Militer
Tim langit 7
Jum'at, 27 Maret 2026 - 14:39 WIB
Mayjen TNI Faridah Faisal, Perempuan Pertama Yang Bikin Sejarah Baru di Peradilan Militer
LANGIT7.ID-Jakarta; Ada momen bersejarah di lingkungan Tentara Nasional Indonesia pada 26 Maret 2026. Di hadapan Panglima TNI, seorang perempuan menyandang pangkat Mayor Jenderal. Namanya Faridah Faisal. Ini benar benar sejarah baru.
Tapi bagi yang mengenalnya, kenaikan pangkat ini bukan sekadar penambahan bintang di pundak. Ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang dimulai lebih dari tiga dekade lalu, ketika seorang perempuan asal Makassar lulus dari pendidikan militer dengan pangkat Letnan Dua Chk (K) pada 1992.
Kepala Pengadilan Militer Utama (Kadilmiltama) wanita pertama ini tak pernah berniat "melawan" dominasi pria di institusi militer. Ia justru memilih jalur yang lebih elegan: menunjukkan bahwa kemampuan tak mengenal gender.
Lulusan Sarjana dan Magister Hukum Universitas Hasanuddin ini membangun kariernya dari bawah. Bukan sekadar menjadi hakim militer, ia juga dipercaya dalam berbagai penugasan strategis, baik di dalam negeri maupun dalam forum kerja sama ikatan profesi hakim wanita internasional. Setiap penugasan ia jalani dengan pendekatan yang khas: tegas tapi humanis.
Ibu Tiga Anak di Tengah Tugas Negara
Yang mungkin luput dari catatan resmi adalah bagaimana ia menjalani dua peran besar sekaligus. Di satu sisi, ia adalah perwira tinggi TNI AD dengan segudang tanggung jawab. Di sisi lain, ia adalah istri dan ibu dari tiga orang anak.
Keberhasilannya menjaga keseimbangan inilah yang membuat sosoknya begitu relevan, tidak hanya bagi prajurit wanita TNI, tapi juga bagi setiap perempuan Indonesia yang ingin berkarier tanpa mengorbankan keluarga.
Tapi bagi yang mengenalnya, kenaikan pangkat ini bukan sekadar penambahan bintang di pundak. Ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang dimulai lebih dari tiga dekade lalu, ketika seorang perempuan asal Makassar lulus dari pendidikan militer dengan pangkat Letnan Dua Chk (K) pada 1992.
Kepala Pengadilan Militer Utama (Kadilmiltama) wanita pertama ini tak pernah berniat "melawan" dominasi pria di institusi militer. Ia justru memilih jalur yang lebih elegan: menunjukkan bahwa kemampuan tak mengenal gender.
Lulusan Sarjana dan Magister Hukum Universitas Hasanuddin ini membangun kariernya dari bawah. Bukan sekadar menjadi hakim militer, ia juga dipercaya dalam berbagai penugasan strategis, baik di dalam negeri maupun dalam forum kerja sama ikatan profesi hakim wanita internasional. Setiap penugasan ia jalani dengan pendekatan yang khas: tegas tapi humanis.
Ibu Tiga Anak di Tengah Tugas Negara
Yang mungkin luput dari catatan resmi adalah bagaimana ia menjalani dua peran besar sekaligus. Di satu sisi, ia adalah perwira tinggi TNI AD dengan segudang tanggung jawab. Di sisi lain, ia adalah istri dan ibu dari tiga orang anak.
Keberhasilannya menjaga keseimbangan inilah yang membuat sosoknya begitu relevan, tidak hanya bagi prajurit wanita TNI, tapi juga bagi setiap perempuan Indonesia yang ingin berkarier tanpa mengorbankan keluarga.