home masjid

Ampunan yang Tak Terduga: Mengapa Musafir Ini Masuk Surga karena Seekor Anjing?

Rabu, 01 April 2026 - 17:37 WIB
Jalan menuju rida Allah bisa jadi tidak ditemukan di barisan paling depan tempat ibadah, melainkan pada seekor binatang terlantar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dunia sering kali menilai kesalehan dari panjangnya barisan doa atau dahi yang menghitam. Namun, dalam khazanah literatur nubuwah yang diwariskan Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, ada sebuah narasi yang menjungkirbalikkan logika kaku mengenai ketaatan. Ini adalah kisah tentang bagaimana setetes air yang diberikan kepada makhluk yang sering dianggap remeh, yakni seekor anjing, mampu menghapus tumpukan dosa masa lalu dan membuka gerbang surga yang paling eksklusif.

Kisah pertama membawa kita pada sosok seorang pria musafir. Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari dalam karyanya yang diterjemahkan oleh Abu Umamah Arif Hidayatullah (2013), menguraikan momen dramatis saat musafir tersebut bergelut dengan dahaga yang mencekik di tengah perjalanan. Setelah berhasil memuaskan haus di dasar sumur, ia keluar dan mendapati seekor anjing yang sedang menjilat tanah lembap karena kehausan yang luar biasa.

Di titik inilah, empati sang pria bekerja melampaui kepentingan pribadinya. Ia bergumam, "Anjing ini telah kehausan sama seperti ketika tadi saya merasa dahaga sekali." Tanpa ragu, ia turun kembali ke sumur yang dalam, mengisi sepatunya (khuff) dengan air, lalu menggigit sepatu itu dengan mulutnya agar tangannya bisa memanjat keluar. Sebuah tindakan teknis yang penuh pengorbanan demi seekor binatang yang haus.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

Maka ia memberikan minum kepada anjing itu, lalu Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Interpretasi atas hadis ini sangatlah mendalam. Kata "syakarallahu lahu" atau Allah berterima kasih kepadanya, menunjukkan betapa Tuhan sangat menghargai sekecil apa pun kebaikan yang didasari oleh ketulusan. Bahkan, dalam riwayat lain di Sahih Bukhari, ditegaskan bahwa Allah memasukkan pria tersebut ke dalam surga.

Namun, kejutan teologis yang lebih besar muncul pada riwayat berikutnya. Pelakunya bukan seorang zahid atau ahli ibadah, melainkan seorang perempuan pezina (baghiyyun) dari kalangan Bani Israil. Status sosialnya berada di titik nadir dalam norma agama maupun masyarakat saat itu. Namun, ketika ia melihat seekor anjing yang nyaris mati kehausan berkeliling di sekitar sumur, nuraninya bergetar. Ia melepas sepatunya, mengambil air, dan meminumkannya kepada anjing tersebut.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya