Semarakkan Hari Santri, PD Pontren Gelar MU'TAMAD 2021
Ahmad zuhdi
Jum'at, 15 Oktober 2021 - 19:14 WIB
Gelaran MuTamad 2021. (Foto: Dok. Kemenag)
Dalam rangka menyemarakkan kegiatan Hari Santri Nasional (HSN), Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren menggelar simposium Khazanah Pemikiran Santri dan Kajian Pesantren (MU’TAMAD). Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Waryono mengungkapkan bahwa kegiatan MU’TAMAD merupakan re-branding Muktamar Pemikiran Santri Nusantara (MPSN) yang sudah dilaksanakan sejak Tahun 2018 di PP Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta.
"Direktorat PD Pontren tetap konsisten untuk menjalankan amanat sejumlah rekomendasi yang selalu muncul sejak MPSN masih berupa forum Halaqah Ulama Internasional. Pertama, urgensi menetapkan standar dan mutu akademik Pesantren dengan tetap mempertahankan karakteristik dan kekhasan masing-masing Pesantren," kata Waryono dalam keterangan yang diterima, Kamis (14/10).
Baca juga:Prof Abdul Mu’ti: Digitalisasi Membawa Dampak Positif jika Dihadapi dengan Bijak
Kedua, penguatan Pesantren sebagai lembaga pendidikan kawah candradimuka yang tidak hanya berorientasi pada mencetak ulama yang dapat menjadi sumber rujukan otoritatif dalam menyelesaikan problematika keagamaan, akan tetapi juga menghasilkan para da’i yang membawa misi Islam rahmatan lil-‘alamin. Dan ketiga, perlunya memperkuat penelitian berbasis Pesantren yang melahirkan gagasan keilmuan Pesantren yang segar dan terbaharukan.
Dalam konteks inilah, lanjut Waryono, nama MPSN berubah menjadi MU’TAMAD, yang secara filosofis berpijak pada pandangan ulama yang dijadikan rujukan otoritatif dalam keilmuan Islam maupun fatwa keagamaan.
Re-branding MPSN menjadi suatu event kegiatan yang lebih segar, berpijak pada khittah dan makna filosofis santri, menurut Waryono, juga mengambil refleksi pelaksanaan Hari Santri Nasional 2021 yang mengambil tema, “Santri Siaga Jiwa Raga”, sebagai bentuk sikap santri Indonesia agar selalu siap siaga untuk menyerahkan jiwa raganya dalam membela tanah air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan perdamaian dunia.
“Dalam frase Mu’tamad inilah kami rasa ruh dan semangat santri siaga jiwa raga terefleksikan. Meminjam pandangan yang dikemukakan K.H. Husein Muhammad, Kayfa Nataqaddam Duuna an Natakhallaa ‘anit-Turats; “Bagaimana agar Santri berfikir maju tanpa mengabaikan jejak dan tradisi Turats atau kitab kuning,” kami merasa perlu merumuskan tujuh diktum yang kemudian diterjemahkan ke dalam tujuh subtema Paper yang dibahas dalam masing-masing Pannel,” ujanya.
"Direktorat PD Pontren tetap konsisten untuk menjalankan amanat sejumlah rekomendasi yang selalu muncul sejak MPSN masih berupa forum Halaqah Ulama Internasional. Pertama, urgensi menetapkan standar dan mutu akademik Pesantren dengan tetap mempertahankan karakteristik dan kekhasan masing-masing Pesantren," kata Waryono dalam keterangan yang diterima, Kamis (14/10).
Baca juga:Prof Abdul Mu’ti: Digitalisasi Membawa Dampak Positif jika Dihadapi dengan Bijak
Kedua, penguatan Pesantren sebagai lembaga pendidikan kawah candradimuka yang tidak hanya berorientasi pada mencetak ulama yang dapat menjadi sumber rujukan otoritatif dalam menyelesaikan problematika keagamaan, akan tetapi juga menghasilkan para da’i yang membawa misi Islam rahmatan lil-‘alamin. Dan ketiga, perlunya memperkuat penelitian berbasis Pesantren yang melahirkan gagasan keilmuan Pesantren yang segar dan terbaharukan.
Dalam konteks inilah, lanjut Waryono, nama MPSN berubah menjadi MU’TAMAD, yang secara filosofis berpijak pada pandangan ulama yang dijadikan rujukan otoritatif dalam keilmuan Islam maupun fatwa keagamaan.
Re-branding MPSN menjadi suatu event kegiatan yang lebih segar, berpijak pada khittah dan makna filosofis santri, menurut Waryono, juga mengambil refleksi pelaksanaan Hari Santri Nasional 2021 yang mengambil tema, “Santri Siaga Jiwa Raga”, sebagai bentuk sikap santri Indonesia agar selalu siap siaga untuk menyerahkan jiwa raganya dalam membela tanah air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan perdamaian dunia.
“Dalam frase Mu’tamad inilah kami rasa ruh dan semangat santri siaga jiwa raga terefleksikan. Meminjam pandangan yang dikemukakan K.H. Husein Muhammad, Kayfa Nataqaddam Duuna an Natakhallaa ‘anit-Turats; “Bagaimana agar Santri berfikir maju tanpa mengabaikan jejak dan tradisi Turats atau kitab kuning,” kami merasa perlu merumuskan tujuh diktum yang kemudian diterjemahkan ke dalam tujuh subtema Paper yang dibahas dalam masing-masing Pannel,” ujanya.