LANGIT7.ID, Jakarta - Umat manusia memasuki era serba digital. Segala hal bisa dilakukan dengan sangat mudah dan praktis. Hanya dengan menekan satu klik lewat ponsel pintar, banyak hal bisa teratasi dalam sekejap. Ini tidak terlepas dari dampak positif perkembangan teknologi.
Namun perlu disadari, setiap kemajuan dalam perkembangan teknologi, memiliki banyak dampak bagi kehidupan sosial. Baik dalam yang bersifat positif untuk meringankan banyak pekerjaan manusia, ataupun yang berdampak negatif dan cenderung merusak.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, mengatakan, digitalisasi sebagai pertanda era digital tidak bisa dihindari. Fakta ini harus dijalani dan dihadapi. Digitalisasi terjadi dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam bidang keagamaan.
Baca Juga: Prof Abdul Mu'ti: Agama dan Sains Tak Dapat Dipisahkan
“Kehidupan digital, khususnya Internet, bisa berdampak positif atau negatif,” kata Prof Mu’ti kepada LANGIT7.ID, Jumat (15/10/2021).
Kehidupan digital bisa berdampak positif dan negatif tergantung setiap orang dalam menyikapi perkembangan itu. Dia mencontohkan, seorang anak bisa memanfaatkan internet sangat bergantung pada bimbingan dan pengawasan pendidik dan orang tua. Dalam dunia bisnis dan pelayanan publik, pelayanan online sangat membantu.
“Demikian halnya dengan dunia pendidikan. Internet sangat bermanfaat dan membantu pelajar untuk mendapatkan materi pelajaran yang bermanfaat secara cepat. Walaupun kecenderungan ini berpengaruh terhadap berkurangnya minat membaca buku,” ucap Prof Mu’ti.
Keberadaan teknologi dari masa ke masa tentu akan selalu memiliki sisi yang baik ataupun buruk sekaligus. Maka dari itu, dia menganjurkan untuk tetap bijak dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, agar bisa mendapatkan lebih banyak dampak positif dan meminimalisir dampak negatif.
Baca Juga: Tiga Skill yang Harus Dimiliki Ayah agar Anak Tak Kecanduan Gadget
“Dampak negatif lainnya adalah penyalahgunaan internet. Sebagian menggunakan untuk bermain game yang tidak bermanfaat dan pornografi yang sangat merusak. Ini memang sangat sulit dihindari karena gadget digunakan di genggaman tangan. Banyak pelajar yang ketagihan gadget. Ketagihan ini dikategorikan sebagai gangguan jiwa,” kata Guru Besar bidang Pendidikan Agama Islam ini.
(jqf)