Tanggapan atas tulisan Prof.Didik J Rachbini, Ph.D
Penguatan 'Natural Hedge' Melalui Keunggulan Komparatif Indonesia
Tim langit 7
Sabtu, 11 April 2026 - 13:10 WIB
Penguatan 'Natural Hedge' Melalui Keunggulan Komparatif Indonesia
Oleh: Nurkhamid Alfi, Mantan Chief Representative Zelan Holdings Malaysia, Alumnus FT Universitas Muhammadiyah Solo
LANGIT7.ID-Pada tulisan yang berjudul "Memanfaatkan Krisis Harga Minyak: Penguatan Sektor 'Natural Hedge' Indonesia, Prof.Didik J Rachbini, Ph.D, yang dimuat di langit7.id, (Kamis, 9 April 2026) menyatakan bahwa dalam menghadapi krisis harga minyak akibat perang AS-Israel vs Iran, Indonesia memiliki keunggulan struktural dalam sektor berbasis sumber daya alam karena sektor ini mampu berperan sebagai "sock absorber" saat terjadi energi global. Sektor-sektor tersebut menurut Prof.Didik terdiri dari gas alam, minyak bumi, pertambangan batubara, nikel, timah, bauksit, maupun minyak sawit, yang semuanya itu sebagai sumber komoditas ekspor dengan harga yang ikut naik.
Memang telah terbukti pada Pemerintahan - Pemerintahan sebelumnya, bahwa sektor-sektor itu menjadi "penyelamat" setiap terjadi kenaikan harga minyak bumi yang menyebabkan APBN tertekan karena penambahan subsidi fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar.
Namun komoditas di atas tidak bisa dipakai sebagai transformasi ekonomi jangka panjang. Saat ini Indonesia termasuk net importir minyak. Ekspor gas dan minyak bumi sudah tidak dapat diandalkan lagi sebagai sumber devisa negara. Sedangkan ekspor batubara tidak akan terlalu lama berlangsung. Hal ini berkenaan dengan kesepakatan dunia bahwa mulai tahun 2050 dimulainya penggunaan energi hijau atau energi baru terbarukan (EBT). Artinya, semua pembangkit listrik berbahan bakar batubara di dunia ini diberhentikan.
Sementara itu, komoditas tambang seperti nikel, timah, dan lainnya harganya fluktuatif. Tidak menentu.
Oleh sebab itu, fondasi transformasi ekonomi Indonesia jangka panjang tidak bisa lagi bertumpu pada komoditas yang disebutkan di atas tadi. Melainkan harus memanfaatkan sektor-sektor yang mempunyai keunggulan komparatif.
Baca juga: Memanfaatkan Krisis Harga Minyak: Penguatan Sektor 'Natural Hedge' Indonesia
LANGIT7.ID-Pada tulisan yang berjudul "Memanfaatkan Krisis Harga Minyak: Penguatan Sektor 'Natural Hedge' Indonesia, Prof.Didik J Rachbini, Ph.D, yang dimuat di langit7.id, (Kamis, 9 April 2026) menyatakan bahwa dalam menghadapi krisis harga minyak akibat perang AS-Israel vs Iran, Indonesia memiliki keunggulan struktural dalam sektor berbasis sumber daya alam karena sektor ini mampu berperan sebagai "sock absorber" saat terjadi energi global. Sektor-sektor tersebut menurut Prof.Didik terdiri dari gas alam, minyak bumi, pertambangan batubara, nikel, timah, bauksit, maupun minyak sawit, yang semuanya itu sebagai sumber komoditas ekspor dengan harga yang ikut naik.
Memang telah terbukti pada Pemerintahan - Pemerintahan sebelumnya, bahwa sektor-sektor itu menjadi "penyelamat" setiap terjadi kenaikan harga minyak bumi yang menyebabkan APBN tertekan karena penambahan subsidi fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar.
Namun komoditas di atas tidak bisa dipakai sebagai transformasi ekonomi jangka panjang. Saat ini Indonesia termasuk net importir minyak. Ekspor gas dan minyak bumi sudah tidak dapat diandalkan lagi sebagai sumber devisa negara. Sedangkan ekspor batubara tidak akan terlalu lama berlangsung. Hal ini berkenaan dengan kesepakatan dunia bahwa mulai tahun 2050 dimulainya penggunaan energi hijau atau energi baru terbarukan (EBT). Artinya, semua pembangkit listrik berbahan bakar batubara di dunia ini diberhentikan.
Sementara itu, komoditas tambang seperti nikel, timah, dan lainnya harganya fluktuatif. Tidak menentu.
Oleh sebab itu, fondasi transformasi ekonomi Indonesia jangka panjang tidak bisa lagi bertumpu pada komoditas yang disebutkan di atas tadi. Melainkan harus memanfaatkan sektor-sektor yang mempunyai keunggulan komparatif.
Baca juga: Memanfaatkan Krisis Harga Minyak: Penguatan Sektor 'Natural Hedge' Indonesia