home masjid

Polemik Eksistensi Nabi Khidir: Tafsir Al-Quran Bantah Mitos Manusia Abadi

Rabu, 15 April 2026 - 18:35 WIB
Khidir adalah simbol bagi pencarian ilmu yang tak bertepi, namun ia tidak berdiri di luar hukum Tuhan tentang kefanaan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dunia Islam tak pernah benar-benar lepas dari pesona sosok yang dikenal sebagai Khidir. Dalam literatur sufistik dan hikayat rakyat, ia digambarkan sebagai sosok abadi yang mengembara di gurun-gurun sunyi atau pesisir samudera, muncul untuk memberikan petunjuk bagi jiwa yang haus akan hakikat. Namun, di balik tirai legenda tersebut, para pakar tafsir dan sejarawan Islam menyodorkan sebuah diskursus yang jauh lebih dingin dan faktual: sebuah analisis tentang batas-batas biologis dan kepastian ajal.

Diskusi mengenai Khidir sering kali berpijak pada pertanyaan apakah ia seorang Nabi, Wali, atau sosok yang melampaui hukum waktu. Sebagian kalangan meyakini Khidir masih hidup berkat meminum Ma’ul Hayat (Air Kehidupan). Namun, otoritas teologi arus utama justru membedah eksistensi ini melalui kacamata Surat al-Anbiya ayat 34. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka apabila kamu mati, apakah mereka akan kekal? [al-Anbiya/21:34].

Naskah yang diulas oleh para sarjana klasik seperti Imam Ibnu Katsir dan Imam At-Thabari memberikan interpretasi tajam atas ayat ini. Ayat tersebut turun sebagai teguran sekaligus penegas hukum alam (sunnatullah). Menurut riwayat Muqathil rahimahullah, ayat ini turun ketika muncul spekulasi di tengah umat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak akan mati. Penegasan ini bukan sekadar informasi biologis, melainkan sebuah pondasi akidah bahwa tidak ada manusia yang diistimewakan dari kematian, termasuk sosok-sosok legendaris masa lalu.

Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria dalam karyanya yang sering dikutip terkait persoalan akidah, menekankan bahwa kegembiraan kaum musyrik atas ancaman kematian Nabi adalah sebuah ironi yang sia-sia. Logika yang dibangun oleh Al-Quran sangat sederhana namun mematikan: jika utusan Allah yang paling mulia saja menemui ajal, atas dasar apa makhluk lain mengklaim keabadian?

Argumen tentang kematian Khidir juga diperkuat dengan tinjauan sejarah atas risalah Muhammad. Sebagaimana dijelaskan dalam karya Syaikh al-Jazairi, hukum kematian berlaku bagi seluruh anak cucu Adam tanpa kecuali. Dalam Surat al-Ankabut ayat 57, Allah menegaskan bahwa Kullu nafsin dza’iqatul maut (Setiap yang bernyawa akan merasakan mati). Imam Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ajal adalah titik yang sudah ditentukan, tidak peduli apakah seseorang berada di medan perang atau berlindung di balik benteng yang kokoh.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya