Akidah Imam Syafi’i dan Isu Uluw: Menelusuri Makna Allah Berada di Atas
Miftah yusufpati
Jum'at, 17 April 2026 - 16:00 WIB
Menetapkan sifat Allah sebagaimana Ia menetapkan sifat bagi diri-Nya dalam Al-Quran dan Sunnah adalah bentuk penghormatan tertinggi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam jagat teologi Islam, perdebatan mengenai posisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sering kali terperosok dalam kerancuan bahasa dan filsafat yang jauh dari kesederhanaan wahyu. Di tengah silang sengkarut penafsiran, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berdiri tegak di atas satu fondasi utama: keyakinan bahwa Allah berada di langit, tinggi di atas segala makhluk-Nya, dan bersemayam (istiwa) di atas Arsy sesuai dengan keagungan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Mûsa Alu Nashr menegaskan bahwa keyakinan ini bukanlah upaya membatasi Tuhan dalam ruang fisik, melainkan penetapan sifat kesempurnaan Dzat yang Maha Tinggi.
Aqidah ini memiliki akar yang dalam, sebagaimana dirumuskan oleh Imam Syafi’i rahimahullah dalam pengakuannya: "Sesungguhnya Allah di atas Arsy, mendekati makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya." Pernyataan ini menjadi kompas bagi generasi setelahnya untuk membedakan antara ketinggian Dzat (uluw dzatiyah) dan keluasan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu hingga ke urat leher manusia.
Perselisihan muncul ketika kelompok seperti Jahmiyah dan Mu'tazilah menafsirkan kata istiwa dengan istaula, yang berarti menguasai atau merebut. Penafsiran ini, menurut banyak ulama, merupakan invasi asing ke dalam khazanah Islam yang tidak dikenal oleh generasi terbaik (salaf). Syaikh Alu Nashr mengkritik keras penggunaan syair-syair anonim yang dipaksakan sebagai legitimasi linguistik. Ia mempertanyakan logika kelompok yang menolak nash-nash Al-Quran yang jelas, namun justru berpegang pada bait syair yang tidak jelas asal-usulnya.
Salah satu argumen klasik yang mematahkan penafsiran istaula adalah logika bahasa Arab itu sendiri. Ahli bahasa Imam Ibnul ‘Arabi pernah menegur mereka yang mencoba memaknai istawa sebagai istaula. "Diamlah! Orang Arab tidak memaknai istawa dengan istaula kecuali jika ada konteks perlawanan atau perselisihan," tegasnya. Jika Allah diartikan menguasai Arsy setelah sebelumnya tidak dikuasai, maka hal tersebut secara implisit menetapkan kelemahan pada Dzat Allah—sebuah konsekuensi yang sangat jauh dari kemahakuasaan-Nya.
Dalam memahami ayat-ayat tentang sifat Allah, Ahlus Sunnah menolak metodologi "bagaimana" (kaifiyah) yang merusak keagungan Tuhan. Saat Imam Malik ditanya tentang istiwa, beliau memberikan jawaban yang mematikan bagi pelaku bid'ah: "Istiwa itu sudah dipahami maknanya, bagaimana-nya tidak masuk akal, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."
Sering kali, keberatan muncul dari ayat-ayat yang secara literal menggunakan kata fi (di dalam), seperti dalam Surah Al-Mulk ayat 16: "Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit...". Ahlus Sunnah menafsirkan fi di sini bukan sebagai zharfiyyah (wadah), melainkan bermakna di atas (fauqiyyah). Hal ini serupa dengan penggunaan kata fi dalam ayat tentang Fir’aun yang menyalib penyihir "di atas" (fi) batang pohon kurma, atau berjalan "di atas" (fi) bumi. Konteks bahasa Arab memungkinkan kata tersebut bermakna ketinggian, bukan berarti Allah berada di dalam langit sebagaimana air berada di dalam cangkir.
Ketegasan aqidah ini bukan untuk memenjara Tuhan dalam ruang, melainkan untuk menetapkan bahwa sifat uluw (tinggi) adalah sifat dzatiyah yang melekat pada Allah sebelum penciptaan ruang dan waktu. Setelah menciptakan Arsy, Allah bersemayam di atasnya sesuai dengan kehendak dan pilihan-Nya.
Aqidah ini memiliki akar yang dalam, sebagaimana dirumuskan oleh Imam Syafi’i rahimahullah dalam pengakuannya: "Sesungguhnya Allah di atas Arsy, mendekati makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya." Pernyataan ini menjadi kompas bagi generasi setelahnya untuk membedakan antara ketinggian Dzat (uluw dzatiyah) dan keluasan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu hingga ke urat leher manusia.
Perselisihan muncul ketika kelompok seperti Jahmiyah dan Mu'tazilah menafsirkan kata istiwa dengan istaula, yang berarti menguasai atau merebut. Penafsiran ini, menurut banyak ulama, merupakan invasi asing ke dalam khazanah Islam yang tidak dikenal oleh generasi terbaik (salaf). Syaikh Alu Nashr mengkritik keras penggunaan syair-syair anonim yang dipaksakan sebagai legitimasi linguistik. Ia mempertanyakan logika kelompok yang menolak nash-nash Al-Quran yang jelas, namun justru berpegang pada bait syair yang tidak jelas asal-usulnya.
Salah satu argumen klasik yang mematahkan penafsiran istaula adalah logika bahasa Arab itu sendiri. Ahli bahasa Imam Ibnul ‘Arabi pernah menegur mereka yang mencoba memaknai istawa sebagai istaula. "Diamlah! Orang Arab tidak memaknai istawa dengan istaula kecuali jika ada konteks perlawanan atau perselisihan," tegasnya. Jika Allah diartikan menguasai Arsy setelah sebelumnya tidak dikuasai, maka hal tersebut secara implisit menetapkan kelemahan pada Dzat Allah—sebuah konsekuensi yang sangat jauh dari kemahakuasaan-Nya.
Dalam memahami ayat-ayat tentang sifat Allah, Ahlus Sunnah menolak metodologi "bagaimana" (kaifiyah) yang merusak keagungan Tuhan. Saat Imam Malik ditanya tentang istiwa, beliau memberikan jawaban yang mematikan bagi pelaku bid'ah: "Istiwa itu sudah dipahami maknanya, bagaimana-nya tidak masuk akal, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."
Sering kali, keberatan muncul dari ayat-ayat yang secara literal menggunakan kata fi (di dalam), seperti dalam Surah Al-Mulk ayat 16: "Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit...". Ahlus Sunnah menafsirkan fi di sini bukan sebagai zharfiyyah (wadah), melainkan bermakna di atas (fauqiyyah). Hal ini serupa dengan penggunaan kata fi dalam ayat tentang Fir’aun yang menyalib penyihir "di atas" (fi) batang pohon kurma, atau berjalan "di atas" (fi) bumi. Konteks bahasa Arab memungkinkan kata tersebut bermakna ketinggian, bukan berarti Allah berada di dalam langit sebagaimana air berada di dalam cangkir.
Ketegasan aqidah ini bukan untuk memenjara Tuhan dalam ruang, melainkan untuk menetapkan bahwa sifat uluw (tinggi) adalah sifat dzatiyah yang melekat pada Allah sebelum penciptaan ruang dan waktu. Setelah menciptakan Arsy, Allah bersemayam di atasnya sesuai dengan kehendak dan pilihan-Nya.