home global news

Umat Islam Indonesia itu Berkarakter Wasathiyah

Sabtu, 16 Oktober 2021 - 09:19 WIB
Imam Shamsi Ali merupakan perwakilan wajah Islam Indonesia di Barat. Ia kerap menyuarakan keadilan dan persatuan antar umat beragama di Amerika Serikat (foto: islamtoday)
Kemarin, Jumat 15 Oktober 2021, saya mendapat kehormatan menjadi salah satu pembicara utama pada diskusi virtual yang dilaksanakan oleh Moya Institute Indonesia. Hadir sebagai pembicara utama lainnya adalah Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Dan sebagai pembanding adalah Prof. Dubes Imran Cottan (mantan Dubes RI di Australia dan China) dan Ust. Mahfud Shiddiq (Sekjen Partai Gelora). Sementara KH Marsudi Suhud sebagai keynote speaker menggantikan KH Aqil Siraj (Ketua Umum Nahdlatul Ulama).

Dalam presentasi singkat saya menyampaikan beberapa hal yang saya anggap relevan dengan tema dan sekaligus keadaan dunia saat ini. Khususnya dalam konteks pergerakan global dan situasi Umat Islam. Dan lebih spesifik lagi dalam konteks keumatan dan peranan Indonesia dalam menampilkan Islam yang ‘rahmatan lil-alamin’.

Bagi saya tema ini sangat penting bahkan terasa personal. Hal itu karena isu Islam dalam wajah Keindonesiaan kita kerap dipandang sebelah mata. Seringkali Umat Islam dari dunia lain ‘overlook’ (tidak memberi perhatian) kepada eksistensi dan potensi Umat Islam Indonesia.

Hal ini sangat terasa dalam kerja-kerja Dakwah kami di Amerika Serikat. Betapa Islam seringkali diidentifikasi sebagai agama Timur Tengah. Sehingga posisi kita sebagai Muslim non Timur Tengah biasa dipandang sebelah mata atau kurang dianggap.

Dan karenanya menampilkan Indonesia dalam pergerakan Islam gobal menjadi sangat penting. Karena selain Membangun citra sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Juga untuk menampik wajah Islam sebagai agama Timur Tengah yang umumnya dipahami dengan konotasi negatif. Bahwa Islam sebagai agama Timur Tengah adalah agama yang anti demokrasi, diskriminatif terhadap perempuan, keras dan kaku, kurang kebebasan dan HAM, dan lain-lain.

Dalam presentasi saya sekali lagi kembali menyampaikan bahwa memahami makna wasathiyah perlu jeli dan sensitif. Wasathiyah tidak berarti mengurangi komitmen kita kepada agama. Tapi bagaimana komitmen agama itu terjaga dalam nilai-nilai keseimbangan dan pertengahan (middle path). Di sìnilah Islam di Indonesia hadir dan membuktikan bahwa ‘jalan tengah’ (wasathiyah) adalah jalan terbaik.

Baca Juga:Prof Hamid Fahmy Zarkasyi: Wasathiyah dalam Islam Beda dengan Moderat ala Barat
Berita Terkait
Berita Lainnya