home masjid

Akidah Imam Syafi’i: Menegaskan Kebenaran Kebangkitan dan Hisab di Akhirat

Sabtu, 18 April 2026 - 16:12 WIB
Eskatologi Syafii mengajak kita untuk melihat melampaui cakrawala dunia yang fana. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Kematian, dalam cakrawala pemikiran teologis Imam Syafi’i, bukanlah titik akhir yang menghapus segala jejak eksistensi manusia. Ia hanyalah sebuah jeda singkat sebelum sebuah peristiwa besar yang mengguncang nalar terjadi: Hari Kebangkitan. Di tengah arus pemikiran filsafat yang terkadang meragukan kembalinya jasad atau keadilan absolut di akhirat, sang arsitek madzhab besar ini berdiri kokoh pada pondasi wahyu yang tak tergoyahkan.

Dalam kitab Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah yang disusun oleh Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-Aqil, terekam sebuah maklumat eskatologis yang menjadi inti dari keyakinan sang Imam. Syafi’i menegaskan:

وَ البَعْثُ حَقٌّ وَ الْحِسَابُ حَقٌّ وَ الْجَنَّةُ وَ النَّارُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَنُ

Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, surga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadits-hadits) adalah benar.

Pernyataan inimerupakan sebuah manifesto iman yang menentang keraguan kaum agnostik maupun kelompok filosofis yang mencoba merasionalisasi akhirat hingga kehilangan maknanya. Bagi Syafi’i, kebenaran tentang kebangkitan (Al-Ba’th) dan penghitungan amal (Al-Hisab) adalah fakta objektif yang telah disepakati oleh lisan para ulama dan pengikut mereka di seluruh penjuru negeri Muslim.

Imam Syafi’i memahami bahwa tanpa adanya kebangkitan dan hisab, kehidupan dunia akan kehilangan poros moralnya. Hisab menjadi momen di mana setiap helai kebaikan dan debu keburukan diletakkan di atas timbangan keadilan yang presisi. Hal ini sejalan dengan argumentasi yang sering dikemukakan dalam literatur klasik seperti Al-I’tiqad karya Imam Al-Baihaqi, yang mencatat bagaimana Syafi’i meyakini bahwa setiap individu akan berdiri sendiri di hadapan Sang Pencipta untuk mempertanggungjawabkan setiap jengkal tindakannya.

Lebih jauh, Syafi’i menetapkan surga dan neraka sebagai realitas yang sudah ada saat ini, bukan sesuatu yang baru diciptakan nanti. Keyakinan ini merupakan garis batas yang tegas dengan kelompok Mu’tazilah yang beranggapan surga dan neraka baru akan ada setelah hari kiamat. Syafi’i mengikuti jalur Sunnah yang meyakini bahwa keduanya adalah tempat peristirahatan abadi bagi mereka yang taat dan tempat pembersihan bagi mereka yang membangkang.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya