LANGIT7.ID-Kematian, dalam cakrawala pemikiran teologis Imam Syafi’i, bukanlah titik akhir yang menghapus segala jejak eksistensi manusia. Ia hanyalah sebuah jeda singkat sebelum sebuah peristiwa besar yang mengguncang nalar terjadi: Hari Kebangkitan. Di tengah arus pemikiran filsafat yang terkadang meragukan kembalinya jasad atau keadilan absolut di akhirat, sang arsitek madzhab besar ini berdiri kokoh pada pondasi wahyu yang tak tergoyahkan.
Dalam kitab
Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah yang disusun oleh Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-Aqil, terekam sebuah maklumat eskatologis yang menjadi inti dari keyakinan sang Imam. Syafi’i menegaskan:
وَ البَعْثُ حَقٌّ وَ الْحِسَابُ حَقٌّ وَ الْجَنَّةُ وَ النَّارُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَنُHari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, surga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadits-hadits) adalah benar.Pernyataan ini merupakan sebuah manifesto iman yang menentang keraguan kaum agnostik maupun kelompok filosofis yang mencoba merasionalisasi akhirat hingga kehilangan maknanya. Bagi Syafi’i, kebenaran tentang kebangkitan (
Al-Ba’th) dan penghitungan amal (
Al-Hisab) adalah fakta objektif yang telah disepakati oleh lisan para ulama dan pengikut mereka di seluruh penjuru negeri Muslim.
Imam Syafi’i memahami bahwa tanpa adanya kebangkitan dan hisab, kehidupan dunia akan kehilangan poros moralnya. Hisab menjadi momen di mana setiap helai kebaikan dan debu keburukan diletakkan di atas timbangan keadilan yang presisi. Hal ini sejalan dengan argumentasi yang sering dikemukakan dalam literatur klasik seperti
Al-I’tiqad karya Imam Al-Baihaqi, yang mencatat bagaimana Syafi’i meyakini bahwa setiap individu akan berdiri sendiri di hadapan Sang Pencipta untuk mempertanggungjawabkan setiap jengkal tindakannya.
Lebih jauh, Syafi’i menetapkan surga dan neraka sebagai realitas yang sudah ada saat ini, bukan sesuatu yang baru diciptakan nanti. Keyakinan ini merupakan garis batas yang tegas dengan kelompok Mu’tazilah yang beranggapan surga dan neraka baru akan ada setelah hari kiamat. Syafi’i mengikuti jalur Sunnah yang meyakini bahwa keduanya adalah tempat peristirahatan abadi bagi mereka yang taat dan tempat pembersihan bagi mereka yang membangkang.
Dalam perspektif ilmiah yang lebih luas, seperti yang dibahas oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam
Hadi al-Arwah, konsepsi surga dan neraka dalam teologi Ahlus Sunnah—yang diwakili dengan sangat baik oleh Syafi’i—menekankan pada keseimbangan antara rasa harap (raja’) dan rasa takut (khauf). Syafi’i ingin memastikan bahwa umat Islam tidak terjebak dalam angan-angan kosong tanpa amal, namun juga tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Bagi penutut ilmu di negeri ini, di mana Madzhab Syafi’i menjadi rujukan utama, memahami pernyataan sang Imam tentang eskatologi adalah cara untuk menghidupkan kembali kesadaran akan akhirat. Syafi’i mengingatkan bahwa segala hal yang telah dijelaskan dalam Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenai detail hari kiamat adalah kebenaran mutlak yang harus diterima dengan ketundukan penuh.
Pernyataan sang Imam ditutup dengan penekanan bahwa aqidah ini telah tersebar luas melalui lisan para ulama di negeri-negeri Muslim. Ini adalah sebuah argumen konsensus (
ijma’) bahwa kebenaran akhirat bukan sekadar opini individu, melainkan warisan kolektif yang dijaga oleh setiap generasi. Di tangan Syafi’i, iman kepada hari akhir bertransformasi menjadi energi moral yang mendorong manusia untuk terus memperbaiki diri di dunia, demi menghadapi sebuah hari di mana tidak ada lagi pembelaan kecuali amal yang tulus.
Akhirnya, eskatologi Syafi’i mengajak kita untuk melihat melampaui cakrawala dunia yang fana. Bahwa di balik kematian, ada kebangkitan yang menunggu, ada penghitungan yang teliti, dan ada surga atau neraka yang menjadi tempat kepulangan hakiki.
(mif)