Imam Syafi’i Tegaskan Akidah Allah di Atas Arsy dalam Kitab Al-Umm
Miftah yusufpati
Ahad, 19 April 2026 - 17:00 WIB
Bagi Imam Syafii, akidah bukan ruang hampa tanpa akar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam bentang sejarah pemikiran Islam, sosok Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i kerap dicitrakan sebagai sang arsitek metodologi hukum. Namun, di balik ketatnya logika ushul fikih yang ia bangun, tersimpan komitmen teologis yang teguh dan tanpa kompromi. Salah satu isu yang sering menjadi titik debat hangat di kalangan mutakalimin atau ahli kalam adalah mengenai sifat-sifat Allah, khususnya konsep istiwa atau bersemayamnya Allah di atas Arsy. Bagi Imam Syafi’i, membicarakan Tuhan bukan berarti terjebak dalam labirin filsafat yang tak berujung.
Dalam catatannya yang dihimpun dalam literatur klasik, sang imam memberikan sebuah pernyataan yang menjadi garis demarkasi antara keyakinannya dengan kelompok rasionalis ekstrem pada masanya. Beliau menyatakan:
الْقَوْلُ فِيْ السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَ رَأَيْتُ عَلَيْهَا الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَ مَالِكٍ وَ غَيْرِهِمَا الإقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ
Pendapatku tentang sunnah (aqidah) yang saya berada di atasnya, dan saya lihat dimiliki oleh orang-orang yang saya lihat, seperti Sufyaan, Maalik dan selainnya, ialah berikrar dengan syahadatain (La Ilaha illallah wa Anna Muhammadar-Rasulullah), beriman bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya di atas langit, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan turun ke langit dunia bagaimana Dia suka. (Dikutip dalam Mukhtashar Al-Uluw karya Al-Dzahabi dan rujukan terkait dalam konteks Al-Umm 2/354-355).
Pernyataan ini bukan sekadar nukilan teks. Imam Syafi’i sedang melakukan sebuah penegasan identitas. Dengan menyebut nama-nama besar seperti Sufyan Ats-Tsauri dan Imam Malik, ia ingin menegaskan bahwa akidah yang ia pegang bukanlah sebuah inovasi, melainkan estafet dari generasi salaf.
George Makdisi dalam karyanya The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West (1981) mencatat bahwa posisi Imam Syafi’i dalam sejarah intelektual Islam adalah sebagai penengah yang tetap berakar pada teks wahyu, menolak penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tasybih), namun juga enggan menghilangkan makna sifat Tuhan melalui metafora yang dipaksakan (ta’thil).
Menariknya, Imam Syafi’i menambahkan frasa "kaifa sya’a" atau sebagaimana yang Dia kehendaki. Ini adalah sebuah pengunci diskursus agar akal manusia tidak mencoba memvisualisasikan bagaimana teknis Allah berada di atas langit atau bagaimana Dia turun ke langit dunia.
Dalam catatannya yang dihimpun dalam literatur klasik, sang imam memberikan sebuah pernyataan yang menjadi garis demarkasi antara keyakinannya dengan kelompok rasionalis ekstrem pada masanya. Beliau menyatakan:
الْقَوْلُ فِيْ السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَ رَأَيْتُ عَلَيْهَا الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَ مَالِكٍ وَ غَيْرِهِمَا الإقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ
Pendapatku tentang sunnah (aqidah) yang saya berada di atasnya, dan saya lihat dimiliki oleh orang-orang yang saya lihat, seperti Sufyaan, Maalik dan selainnya, ialah berikrar dengan syahadatain (La Ilaha illallah wa Anna Muhammadar-Rasulullah), beriman bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya di atas langit, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan turun ke langit dunia bagaimana Dia suka. (Dikutip dalam Mukhtashar Al-Uluw karya Al-Dzahabi dan rujukan terkait dalam konteks Al-Umm 2/354-355).
Pernyataan ini bukan sekadar nukilan teks. Imam Syafi’i sedang melakukan sebuah penegasan identitas. Dengan menyebut nama-nama besar seperti Sufyan Ats-Tsauri dan Imam Malik, ia ingin menegaskan bahwa akidah yang ia pegang bukanlah sebuah inovasi, melainkan estafet dari generasi salaf.
George Makdisi dalam karyanya The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West (1981) mencatat bahwa posisi Imam Syafi’i dalam sejarah intelektual Islam adalah sebagai penengah yang tetap berakar pada teks wahyu, menolak penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tasybih), namun juga enggan menghilangkan makna sifat Tuhan melalui metafora yang dipaksakan (ta’thil).
Menariknya, Imam Syafi’i menambahkan frasa "kaifa sya’a" atau sebagaimana yang Dia kehendaki. Ini adalah sebuah pengunci diskursus agar akal manusia tidak mencoba memvisualisasikan bagaimana teknis Allah berada di atas langit atau bagaimana Dia turun ke langit dunia.