Kritik Tajam Imam Syafi’i Terhadap Fenomena Tasawuf pada Masanya
Miftah yusufpati
Senin, 20 April 2026 - 16:00 WIB
Imam Syafii ingin memurnikan tasawuf dari unsur-unsur parasit yang merusak citra Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam sejarah intelektual Islam, Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i dikenal sebagai tokoh yang memberikan tempat terhormat bagi nalar di samping wahyu. Namun, ketika berhadapan dengan fenomena mistisisme atau tasawuf yang mulai menjamur di zamannya, sang Imam kerap melontarkan kalimat-kalimat yang menusuk. Bukan karena ia anti-spiritualitas, melainkan karena ia melihat adanya gejala dekadensi intelektual dan produktivitas di balik jubah-jubah pengabdian mistis tersebut.
Kritik Imam Syafi’i terhadap kaum Shufiyah terekam kuat dalam berbagai literatur sejarah dan manaqib. Salah satu pernyataannya yang paling satir dan sering dikutip oleh para peneliti adalah mengenai kecepatan degradasi logika bagi mereka yang masuk ke dunia tasawuf tanpa dasar ilmu yang kuat. Beliau berujar:
لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتُه أَحْمَقُ
Seandainya seorang menjadi sufi di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau dapati ia, kecuali menjadi orang bodoh. (Manaqib asy-Syafi’i, Al-Baihaqi, 2/503).
Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan Imam Syafi’i terhadap kecenderungan kaum sufi yang sering kali meninggalkan kajian hukum dan logika formal demi mengejar pengalaman batiniah yang abstrak. Bagi Syafi’i, agama adalah keteraturan dan pemahaman yang jelas terhadap teks. Dalam pandangan akademik Christopher Melchert melalui karyanya The Formation of the Sunni Schools of Law (1997), Imam Syafi’i memang sangat menekankan pada transmisi ilmu yang sistematis. Tasawuf yang mengabaikan akal dipandang sebagai ancaman bagi integritas intelektual Muslim.
Lebih lanjut, Imam Syafi’i memberikan pengecualian yang sangat ketat. Beliau menyatakan tidak pernah mendapatkan seorang sufi yang tetap memiliki kejernihan akal, kecuali satu orang. Beliau berkata:
مَا رَأَيْتُ صُوْفِيًّا عَاقِلاً قَطْ إِلاَّ مُسْلِم الْخَوَاص
Kritik Imam Syafi’i terhadap kaum Shufiyah terekam kuat dalam berbagai literatur sejarah dan manaqib. Salah satu pernyataannya yang paling satir dan sering dikutip oleh para peneliti adalah mengenai kecepatan degradasi logika bagi mereka yang masuk ke dunia tasawuf tanpa dasar ilmu yang kuat. Beliau berujar:
لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتُه أَحْمَقُ
Seandainya seorang menjadi sufi di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau dapati ia, kecuali menjadi orang bodoh. (Manaqib asy-Syafi’i, Al-Baihaqi, 2/503).
Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan Imam Syafi’i terhadap kecenderungan kaum sufi yang sering kali meninggalkan kajian hukum dan logika formal demi mengejar pengalaman batiniah yang abstrak. Bagi Syafi’i, agama adalah keteraturan dan pemahaman yang jelas terhadap teks. Dalam pandangan akademik Christopher Melchert melalui karyanya The Formation of the Sunni Schools of Law (1997), Imam Syafi’i memang sangat menekankan pada transmisi ilmu yang sistematis. Tasawuf yang mengabaikan akal dipandang sebagai ancaman bagi integritas intelektual Muslim.
Lebih lanjut, Imam Syafi’i memberikan pengecualian yang sangat ketat. Beliau menyatakan tidak pernah mendapatkan seorang sufi yang tetap memiliki kejernihan akal, kecuali satu orang. Beliau berkata:
مَا رَأَيْتُ صُوْفِيًّا عَاقِلاً قَطْ إِلاَّ مُسْلِم الْخَوَاص