home masjid

Negosiasi Gagal Utbah bin Rabi’ah: Tawaran Harta dan Kekuasaan Dibalas Ayat Suci

Rabu, 22 April 2026 - 16:01 WIB
Utbah bersumpah dengan jujur: ucapan itu bukan sihir, bukan syiir, dan bukan pula perdukunan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah memanasnya suhu politik di Makkah empat belas abad silam, sebuah pertemuan rahasia namun menentukan terjadi. Kaum Quraisy yang mulai frustrasi menghadapi gelombang dakwah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memutuskan untuk mengirimkan juru bicara terbaik mereka. Pilihan jatuh kepada Utbah bin Rabi’ah, seorang pria yang dikenal luas karena kepiawaiannya berdiplomasi dan pemahamannya yang mendalam terhadap sastra serta perdukunan.

Kisah ini, yang diangkat dari kitab Shahihus Siratin Nabawiyyah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani (hlm. 158-163), menyajikan sebuah narasi tentang benturan antara logika transaksional manusia dengan kekuatan transendental wahyu. Utbah, atau yang akrab disapa Abul Walid, datang bukan untuk berdebat ideologi, melainkan untuk menawarkan kompromi politik dan materi yang barangkali sulit ditolak oleh manusia biasa.

Pertemuan itu dimulai dengan provokasi halus. Utbah mempertanyakan posisi sosial Rasulullah dibandingkan leluhurnya, Abdullah dan Abdul Mutthalib. Strategi ini, dalam perspektif sosiologi masyarakat tribalisme sebagaimana dijelaskan Montgomery Watt dalam Muhammad at Mecca (1953), bertujuan untuk menyudutkan lawan bicara pada pilihan dilematis: mengakui keunggulan leluhur yang berarti mengakui kebenaran berhala, atau mengunggulkan diri sendiri yang berarti mencederai kehormatan keluarga.

Namun, Rasulullah tetap diam, membiarkan Utbah menumpahkan seluruh argumentasinya. Utbah melontarkan tuduhan bahwa dakwah Muhammad telah mencerai-beraikan persatuan kaum. Ia kemudian menawarkan paket kompensasi: jika motifnya harta, Quraisy akan menjadikannya orang terkaya; jika wanita, ia boleh memilih sepuluh; jika kekuasaan, ia akan diangkat menjadi pemimpin tunggal.

Syaikh Al-Albani, mengutip riwayat Imam Abdu bin Humaid dalam Musnad-nya, menyoroti betapa tenang Rasulullah menghadapi godaan tersebut. Saat Utbah selesai bicara, Rasulullah hanya bertanya, Apakah engkau sudah selesai, wahai Abul Walid? Sebuah pertanyaan yang menunjukkan kematangan jiwa di atas hiruk-pikuk tawaran duniawi. Jawaban Rasulullah tidak datang dari narasi pribadinya, melainkan dari langit melalui pembacaan surat Fusshilat:

حم . تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ . كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Haa Miim. Diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. (QS. Fusshilat: 1-3).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya