home global news

Anggito Abimanyu Ungkap Era Economics of War, Ekonomi Global Tak Lagi Pasti

Kamis, 23 April 2026 - 16:06 WIB
Ketua Dewan Komisioner LPS Prof. Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc. (Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta; Ketua Dewan Komisioner LPS Prof. Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc. mengingatkan bahwa dunia saat ini telah memasuki fase baru yang ia sebut sebagai “Economics of War”, sebuah kondisi di mana ketidakpastian global menjadi realitas yang harus dihadapi oleh setiap negara, termasuk Indonesia.

Dalam diskusi publik di Universitas Paramadina, Anggito menjelaskan bahwa tatanan ekonomi global yang selama puluhan tahun relatif stabil kini mulai mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya ekonomi dunia berjalan dalam kerangka kerja sama global, perdagangan bebas, dan integrasi keuangan, kini arah tersebut mulai bergeser.

Ia memaparkan bahwa selama kurang lebih 50 tahun terakhir, ekonomi global relatif stabil dengan pertumbuhan sekitar 3 hingga 4 persen per tahun serta perdagangan internasional yang terus meningkat. Namun kondisi tersebut kini berubah, ditandai dengan melemahnya peran lembaga multilateral, aturan perdagangan yang tidak lagi dipatuhi secara konsisten, serta meningkatnya dominasi negara-negara kuat dalam menentukan arah ekonomi global.

“Namun, kondisi saat ini menunjukkan arah yang berbalik. Ekonomi global tidak lagi berjalan dengan aturan bersama,” ujar dia, Kamis (23/4/2026)

Menurut Anggito, perubahan tersebut juga diperparah oleh meningkatnya risiko geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi stabilitas global. Dampaknya terlihat jelas pada lonjakan harga berbagai komoditas strategis dunia.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) per 20 April tercatat naik sekitar 35 dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar 90 dolar AS per barel, atau meningkat hampir 40 persen. Kenaikan juga terjadi pada batu bara yang melonjak sekitar 39,5 persen secara tahunan, nikel naik 16,9 persen, serta minyak sawit (CPO) meningkat sekitar 8 persen.

Lonjakan tersebut menciptakan fenomena windfall profit, yaitu keuntungan besar yang diperoleh perusahaan bukan karena peningkatan produktivitas, melainkan akibat faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok global yang bersifat sangat volatil dan sulit diprediksi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya