LANGIT7.ID-, Yogyakarta - -
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menjalin kemitraan strategis dengan
Kaikoukai Healthcare Corporation, penyedia
layanan kesehatan asal Jepang, untuk memperkuat layanan kesehatan di Indonesia. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah
Haedar Nashir dan
President of Kaikoukai Healthcare Corporation Tetsuya Yamada pada Sabtu (18/7/2026) lalu.
Baca juga: Dinilai Tidak Likuid dan Berfokus pada Sektor Riil, Investasi Muhammadiyah Berisiko TinggiKerja sama jangka panjang ini mencakup empat bidang utama, yakni pengembangan layanan hemodialisis, pengelolaan rumah sakit modern, pengembangan fasilitas
perawatan lansia, serta perluasan program internasional.
Haedar Nashir mengatakan kemitraan ini sejalan dengan strategi Muhammadiyah dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Menurutnya, kedekatan historis serta kesamaan nilai budaya antara Indonesia dan Jepang menjadi modal penting untuk menghadirkan layanan kesehatan berstandar global.
"Kerja sama ini akan memberikan manfaat bagi program-program strategis Muhammadiyah dalam membangun kesehatan bangsa," ujar Haedar seperti dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, Kamis (23/7/2026).
Salah satu fokus utama kerja sama adalah pengembangan layanan hemodialisis. Kaikoukai membawa teknologi cuci darah yang telah diterapkan di jaringan rumah sakitnya di Tokyo dan Nagoya untuk meningkatkan penanganan pasien gagal ginjal, khususnya akibat komplikasi
diabetes melitus.
Tetsuya Yamada menyebut tingkat kelangsungan hidup pasien yang menjalani terapi hemodialisis di Kaikoukai selama lebih dari lima tahun mencapai lebih dari 70 persen. Ia berharap kerja sama ini tidak hanya memperkuat sektor kesehatan, tetapi juga mempererat hubungan Indonesia dan Jepang.
Baca juga: Berapa Aset Muhammadiyah? Hilman: Bendahara PP Muhammadiyah Saja Belum MenghitungSelain peningkatan layanan kesehatan, kerja sama ini juga membuka peluang bagi lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah di bidang kesehatan untuk berkarier di Jepang.
Yamada mengungkapkan kebutuhan tenaga pendamping lansia (caregiver) di negaranya terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia, sementara banyak tenaga profesional di jaringan rumah sakit Kaikoukai berasal dari Indonesia.
Menanggapi peluang tersebut, Haedar meminta jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-'Aisyiyah (RSMA) untuk menindaklanjuti kerja sama ini secara konkret agar mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan sumber daya manusia berstandar internasional.
"Empat pilar yang dibawa Tuan Yamada menjadi penguat langkah yang sedang kita jalankan. Tanpa langkah yang progresif, kita tidak akan memiliki institusi kesehatan yang maju dan berkemajuan," tutup Haedar.
(est)