Oleh: Prof Dr Bambang SetiajiLANGIT7.ID-Korban keracunan MBG terjadi lagi lebih dari 500 anak di sebuah Ponpes di Sidoarjo Jawa Timur. Mengapa kejadian keracunan MBG lebih besar dari yang di masyarakat.
Masyarkat sering ada kenduri, pesta nikah, khitanan, pengajian maupun aktivitas yang sejenis. Dan yang lebih terdata dan terdokumentasi pada big data adalah jutaan pax industri hantaran makanan. Pertanyaan mendasar mebgapa prevalenai MBG jauh lebih besar?
Dalam ketentuan audit jika kejadian atau kesalahan selalu berulang maka terdapat indikasi persoalan yang terjadi bersifat mendasar.
Kata kuncinya adalah kapasitas terlalu besar sehingga dimasak malam hari jarak dengan waktu makan terlalu panjang.
Terulangnya kasus keracunan MBG disebabkan oleh tuntutan kapasitas yang terlalu besar 2000 atau bahkan 3000 sehingga harus disiapkan malam hari.
Akibatnya MBG yang semula makan siang gratis diubah menjadi sekitar jam 9 pagi untuk menghindari kerusakan masakan. Jika sekolah sedang pelajaran atau ujian yang kemudian dimakan pada siang hari makanan sudah terkontaminasi. Jam 9 pagi adalah waktu belajar atau ujian yang utama prime time.
Solusinya adalah mengurangi kapasitas per dapur dan hanya boleh memulai memasak pada pagi hari. Sehingga makanan benar benar masih fresh saat disajikan. Dari konsep makanan dingin menjadi konsep makanan hangat.
Kapasitas yang diamaksud justru harus diturunkan sekitar 200 sampai 300 dengan melibatkan ratusan ribu resto yang menurut data statistik negara terlalu padat.
Kondisi sekarang negara mengalami terlalu banyak resto disebabkan oleh keterdesakan sektor pertanian dan penurunan peran sektor industri pengolahan (deindustrialisasi) yang menyebabkan penumpukan di sektor jasa mudah yaitu resto resto kecil.
MBG berpotensi menyelamatkan ratusan ribu resto kecil dengan jalan mengundang mereka masuk di dapur dapur dan memberi order 200 sampai dengan 300 pax. Tujuannya adalah supaya masakan benar benar baru dan masih hangat. Masa selesai memasak dan dikonsumsi maksimum hanya boleh misal 1 jam. Dengan jalan mengungdang setidaknya 10 resto pada setiap MBG. Perubahan ini hanya diperlukan sedikit perubahan teknis, misal jumal kompor tetapi tidak memerlukan ruangan pendinginan karena konsepnya disajikan panas atau langsung. Perubahan lain mungkin pada packing makanan hangat makanan hangat perlu packing tertentu dan hal itu sudah terjadi dan sejauh ini aman sudah terbukti pada jutaan pax industri makanan hantaran. Dengan perubahan teknis kecil tersebut peran investor MBG tidak dirugikan.
Apa tugas ribuan pegawai MBG yang sangat berarti juga dari sisi ketenaga kerjaan rakyat? Tugasnya berubah menjadi:
1. Penyedia bahan baku untuk 10 resto pada setiap MBG.
2. Bertugas bertugas menjadi pemeriksa, dan jika perlu harus mencoba setiap makanan yang akan disajikan kepada anak anak.
3. Mencoba makanan tersebut harus didokumentasi dengan teknologi yang sekarang sangat memungkinkan diupload ke BGN pusat dan riel time.
Dengan perubahan makanan dingin ke makanan hangat yang sudah kita uji pada jutaan pax industri makanan pesan antar sekarang maka peran MBG pada ekonomi lebih nyata lagi yaitu menyelamatkan modal anak anak bangsa yang ditanam di ratusan ribu warung dan jutaan pekerja yang sekarang mengalami over suplai.
Jika MBG tidak mau menolong ribuan resto yang sekarang sekarat atau bertahan pada bisnis survival maka terjadi "silent effect" kesehatan yang tidak kalah menyedihkan dibanding stunting.
Efek dari usaha yang bersifat survival persaingan ketat, tidak ada laba, tidak ada daya re investasi, bahkan tidak ada daya untuk mengganti bahan khususnya minyak goreng - efeknya adalah kesehatan umum masyarakat. Tingginya prevalensi radang dan bahkan kanker di Indonesia. Akibat lanjutan adalah defisit BPJS dan akhirnya mengganggu APBN juga.
Di samping rekonsepsi MBG dengan mengambil pelajaran dari big data industri hantaran, MBG bisa dan perlu dikembalikan kepada konsep awal mengatasi masalah kurang gizi atau stunting yang diperkirakan 30 sampai 40 persen anak anak. Dengan demikian terdapat 200 triliun dana yang bisa dipergunakan untuk memperkuat infra sturktur reindustrialisasi menuju negara maju berbasis teknologi dan keluar dari jebakan negara menengah - middle income trap.
(Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)