LANGIT7.ID-, Sidoarjo - Korban yang diduga keracunan
menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manba'ul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur terus bertambah dan kini mencapai 566 orang.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap penyebab keracunan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengungkapkan, jumlah korban mencapai 566 orang, hingga Rabu (2/9). Jumlah tersebut merupakan gabungan dari data pasien sebelumnya ditambah temuan kasus baru.
"531 ditambah 35. Kurang lebih 566 ya," kata Lakhsmie di Sidoarjo, dikutip Rabu (3/9/2026).
Mayoritas korban merupakan santri dan santriwati dari Pesantren Manbaul Hikam. Serta 19 siswa lembaga pendidikan di sekitar Tanggulangin yang juga terdampak. Mereka mengalami gejala mual, muntah dan pusing usai mengonsumsi makanan dari SPPG Kalitengah Tanggulangin tersebut, pada Selasa (1/9).
Sebelumnya, Lakhsmie menyebut jumlah korban adalah 424 santri. Kemudian 24 orang lainnya merupakan korban dugaan kejadian yang sama di luar ponpes. Sementara 173 orang sudah diperbolehkan pulang setelah mendapat penanganan medis.
Baca juga: Dugaan Keracunan MBG di Ponpes Manba’ul Hikam: 88 Masih Dirawat, SPPG DisuspendSementara itu, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) Ketut Sumedana mengungkap penyebab ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Ia mengatakan, ada kelalaian pada standar operasional prosedur (SOP) pendistribusian MBG.
"Itu karena ketidakdisiplinan dari pada SPPG dan pendistribusian. Jadi seharusnya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari 4 jam," ujar Ketut kepada wartawan, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, dari situlah penyebab keracunan. "Karena MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya cepat berkembang," lanjutnya.
Pihak BGN sendiri, tambah Ketut, telah membuat aturan pengawasan yang dilakukan sehari dua kali. Aturan itu pengawasan harus dilakukan pada pukul 17.00 WIB pada saat bahan masakan masuk dan pukul 02.00 WIB pada saat proses masak.
"Kita setiap hari, dua kali sehari kita melakukan apel kesiagaan MBG, mulai dari jam 2 malam terus jam 5 sore. Karena waktu-waktu itu waktu krusial pemilihan bahan, kalau jam 5 kan sampai, masak jam 2 pagi," papar dia.
Baca juga: Guru Besar UGM Sebut Pentingnya Payung Hukum untuk Program MBG Agar AmanSayangnya, aturan yang dibuat tidak sesuai dengan apa yang dilaksanakan di lapangan. Ketut mengatakan banyak petugas dan kepala satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG) yang tidak mematuhi. Selain itu ada juga sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG.
"Kenyataannya masih ada di beberapa daerah orang-orang ini, anak-anak kita ini, kepala-kepala SPPG ini, termasuk PIC-PIC, termasuk ada juga sekolah-sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG melebihi batas waktu yang ditetapkan," imbuhnya.
Terkait kasus ini, Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BGN Sudaryono mengenai dugaan keracunan yang dialami para santri.
Tindak lanjutnya, BGN menerbitkan surat penghentian sementara atau suspend terhadap operasional SPPG yang terkait dengan kejadian tersebut mulai Rabu, 2 September. Adapun penghentian sementara dilakukan untuk kepentingan investigasi.
"Akan ada investigasi dari BGN pusat apakah akan ada suspend ringan atau berat terkait operasional SPPG tersebut," kata Teguh.
Baca juga: Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG, Bupati Bantah Isu Korban Meninggal(lsi)