Bu Guru Nurlaela Tewas dalam Kecelakaan Kereta, Tiap Hari Tempuh Bekasi-Jakarta Demi Mengajar
Lusi mahgriefie
Rabu, 29 April 2026 - 07:05 WIB
Bu Guru Nurlaela mengajar di SDN Pulo Gebang 11 Jakarta Timur
Salah satu korban tewas dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur, Senin malam lalu adalah Nurlaela. Ia merupakan guru SDN Pulo Gebang 11 Jakarta Timur, dan dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi dalam mengemban tugas sebagai pendidik.
Perempuan berusia 37 tahun itu setiap hari menempuh jarak yang begitu jauh, Bekasi ke Jakarta, untuk menjalani tugasnya sebagai guru. Bukan hanya sekadar menjalani profesi, namun Nurlela mendedikasikan jiwa dan pikirannya untuk mendidik para calon penerus bangsa.
Malam nahas itu, seperti biasanya Nurlaela selesai mengajar hendak pulang ke rumahnya di Kampung Ceger, Cikarang Timur, Bekasi. Hal yang kerap dia lakukan setiap hari selama bertahun-tahun, berangkat pagi-pulang sore dengan menggunakan KRL.
Nasib berkata lain, KRL yang ia tumpangi pada Senin (27/4) malam itu dihantam KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Begitu besar dampak tabrakan tersebut hingga merenggut nyawa diantaranya Bu Guru Nurlela dan 14 penumpang perempuan lainnya (data sementara). Serta 88 orang mengalami luka dan sedang dalam perawatan medis.
Baca juga:Jasa Raharja Siapkan Santunan Rp90 Juta untuk Korban Tewas Tragedi Kereta di Bekasi Timur
Di waktu bersamaan namun di tempat berbeda, keluarga yang sedang menanti Nurlaela di rumah mencoba untuk menghubunginya berkali-kali, namun tak ada jawaban. Hingga pada satu panggilan, akhirnya ada yang menjawab.
"Handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana," begitu kata seseorang saat menjawab panggilan telepon Nurlaela. Sebagaimana mengutip akun Instagram @janganjadiguru.
Perempuan berusia 37 tahun itu setiap hari menempuh jarak yang begitu jauh, Bekasi ke Jakarta, untuk menjalani tugasnya sebagai guru. Bukan hanya sekadar menjalani profesi, namun Nurlela mendedikasikan jiwa dan pikirannya untuk mendidik para calon penerus bangsa.
Malam nahas itu, seperti biasanya Nurlaela selesai mengajar hendak pulang ke rumahnya di Kampung Ceger, Cikarang Timur, Bekasi. Hal yang kerap dia lakukan setiap hari selama bertahun-tahun, berangkat pagi-pulang sore dengan menggunakan KRL.
Nasib berkata lain, KRL yang ia tumpangi pada Senin (27/4) malam itu dihantam KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Begitu besar dampak tabrakan tersebut hingga merenggut nyawa diantaranya Bu Guru Nurlela dan 14 penumpang perempuan lainnya (data sementara). Serta 88 orang mengalami luka dan sedang dalam perawatan medis.
Baca juga:Jasa Raharja Siapkan Santunan Rp90 Juta untuk Korban Tewas Tragedi Kereta di Bekasi Timur
Di waktu bersamaan namun di tempat berbeda, keluarga yang sedang menanti Nurlaela di rumah mencoba untuk menghubunginya berkali-kali, namun tak ada jawaban. Hingga pada satu panggilan, akhirnya ada yang menjawab.
"Handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana," begitu kata seseorang saat menjawab panggilan telepon Nurlaela. Sebagaimana mengutip akun Instagram @janganjadiguru.