Misteri Sajah: Dari Panglima Perang Mesopotamia hingga Kembali ke Kabilah
Miftah yusufpati
Rabu, 06 Mei 2026 - 05:06 WIB
Kisah Sajah yang aneh ini pada akhirnya memberikan sebuah refleksi mendalam mengenai betapa bahayanya mengikuti pemimpin yang tidak memiliki arah yang jelas. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Matahari di gurun pasir selalu membawa kisah tentang pergulatan kekuasaan dan tradisi. Di masa-masa awal kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq, stabilitas negara Islam yang baru saja kehilangan Rasulullah mendapat ujian berat. Salah satu episentrum ketegangan itu muncul ketika kabar wafatnya Nabi dimanfaatkan oleh berbagai faksi untuk memulihkan otonomi kesukuan dan menantang kekuasaan sentral di Madinah. Di tengah perpecahan internal Banu Tamim mengenai kewajiban zakat, muncul sosok perempuan dari wilayah utara Jazirah Arab yang membawa ancaman baru, yaitu Sajah bint Al-Harith.
Berdasarkan catatan dalam buku Abu Bakr As-Siddiq, Yang Lembut Hati karya Muhammad Husain Haekal, perjalanan Sajah adalah sebuah rangkaian peristiwa yang sangat ganjil dan sulit dipahami logika politik konvensional. Ia memimpin pasukan besar dari Mesopotamia dengan niat awal hendak menggoyahkan pemerintahan Islam di Madinah. Namun, sesampainya di perbatasan, niat tersebut dengan cepat memudar dan berbelok arah setelah ia bertemu dengan Malik bin Nuwairah, sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanan ke Yamamah dan menikahi Musailimah.
Keanehan demi keanehan ini tidak hanya terletak pada inkonsistensi tindakan Sajah, melainkan juga pada pribadi kedua tokoh tersebut. Sajah digambarkan sebagai sosok yang memiliki dua sisi yang kontras. Di satu sisi, ia adalah seorang pemimpin pasukan dan dukun yang membacakan mantra-mantra. Namun, di sisi lain, ia juga memiliki sifat keperempuanan yang lemah lembut dan mudah goyah pendiriannya. Setelah berdialog dengan Musailimah, ia terpesona oleh tutur kata yang manis dan menerima lamaran pria itu.
Sikap Sajah yang berubah secara drastis setelah berinteraksi dengan para pemimpin kabilah lokal menunjukkan betapa rapuhnya landasan ideologi gerakan tersebut. Mereka tidak bergerak atas dasar keyakinan yang kokoh, melainkan dorongan pragmatisme kekuasaan dan pengaruh personal. Setelah tinggal bersama Musailimah selama tiga hari, Sajah kembali ke kaumnya di Mesopotamia dan menjalani kehidupannya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah ia tidak pernah melakukan petualangan yang mengguncang kawasan tersebut dan tidak pernah menikah dengan orang luar.
Kondisi ini menjadi lebih aneh lagi ketika melihat perilaku dan aturan yang diterapkan oleh Musailimah al-Kadzab. Dalam catatan Haekal, Musailimah adalah sosok yang memiliki bentuk tubuh yang kecil dan kerdil serta wajah yang tidak menarik, tetapi ia memiliki kemahiran retorika yang luar biasa dalam merayu dan mempengaruhi orang lain. Meskipun memiliki kemampuan untuk memikat dengan kata-kata, Musailimah rupanya tidak memiliki ketertarikan yang besar terhadap perempuan atau kecantikan fisik.
Hal ini dibuktikan dengan aturan ekstrem yang ia tetapkan bagi kaumnya di Yamamah. Musailimah menetapkan bahwa barang siapa memiliki anak laki-laki, ia diharamkan untuk mendekati atau menggauli istrinya, kecuali jika anak tersebut meninggal dunia. Hanya setelah kematian sang anak barulah pria tersebut diperbolehkan untuk kembali menggauli istrinya demi memperoleh keturunan yang baru. Aturan yang tidak lazim ini menunjukkan adanya distorsi pemikiran dan penyimpangan aturan yang sangat jauh dari norma-norma kehidupan normal dan ajaran agama.
Dalam perspektif sosiologi sejarah, fenomena semacam ini sering kali muncul pada masa-masa kekacauan sosial. Sejarawan seperti Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah menguraikan bahwa kelompok-kelompok yang terpengaruh oleh ilusi kenabian dan kepemimpinan karismatik cenderung melanggar batas-batas kemanusiaan dan norma sosial demi mempertahankan kekuasaan atau pengaruh kelompok mereka tanpa landasan yang rasional.
Berdasarkan catatan dalam buku Abu Bakr As-Siddiq, Yang Lembut Hati karya Muhammad Husain Haekal, perjalanan Sajah adalah sebuah rangkaian peristiwa yang sangat ganjil dan sulit dipahami logika politik konvensional. Ia memimpin pasukan besar dari Mesopotamia dengan niat awal hendak menggoyahkan pemerintahan Islam di Madinah. Namun, sesampainya di perbatasan, niat tersebut dengan cepat memudar dan berbelok arah setelah ia bertemu dengan Malik bin Nuwairah, sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanan ke Yamamah dan menikahi Musailimah.
Keanehan demi keanehan ini tidak hanya terletak pada inkonsistensi tindakan Sajah, melainkan juga pada pribadi kedua tokoh tersebut. Sajah digambarkan sebagai sosok yang memiliki dua sisi yang kontras. Di satu sisi, ia adalah seorang pemimpin pasukan dan dukun yang membacakan mantra-mantra. Namun, di sisi lain, ia juga memiliki sifat keperempuanan yang lemah lembut dan mudah goyah pendiriannya. Setelah berdialog dengan Musailimah, ia terpesona oleh tutur kata yang manis dan menerima lamaran pria itu.
Sikap Sajah yang berubah secara drastis setelah berinteraksi dengan para pemimpin kabilah lokal menunjukkan betapa rapuhnya landasan ideologi gerakan tersebut. Mereka tidak bergerak atas dasar keyakinan yang kokoh, melainkan dorongan pragmatisme kekuasaan dan pengaruh personal. Setelah tinggal bersama Musailimah selama tiga hari, Sajah kembali ke kaumnya di Mesopotamia dan menjalani kehidupannya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah ia tidak pernah melakukan petualangan yang mengguncang kawasan tersebut dan tidak pernah menikah dengan orang luar.
Kondisi ini menjadi lebih aneh lagi ketika melihat perilaku dan aturan yang diterapkan oleh Musailimah al-Kadzab. Dalam catatan Haekal, Musailimah adalah sosok yang memiliki bentuk tubuh yang kecil dan kerdil serta wajah yang tidak menarik, tetapi ia memiliki kemahiran retorika yang luar biasa dalam merayu dan mempengaruhi orang lain. Meskipun memiliki kemampuan untuk memikat dengan kata-kata, Musailimah rupanya tidak memiliki ketertarikan yang besar terhadap perempuan atau kecantikan fisik.
Hal ini dibuktikan dengan aturan ekstrem yang ia tetapkan bagi kaumnya di Yamamah. Musailimah menetapkan bahwa barang siapa memiliki anak laki-laki, ia diharamkan untuk mendekati atau menggauli istrinya, kecuali jika anak tersebut meninggal dunia. Hanya setelah kematian sang anak barulah pria tersebut diperbolehkan untuk kembali menggauli istrinya demi memperoleh keturunan yang baru. Aturan yang tidak lazim ini menunjukkan adanya distorsi pemikiran dan penyimpangan aturan yang sangat jauh dari norma-norma kehidupan normal dan ajaran agama.
Dalam perspektif sosiologi sejarah, fenomena semacam ini sering kali muncul pada masa-masa kekacauan sosial. Sejarawan seperti Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah menguraikan bahwa kelompok-kelompok yang terpengaruh oleh ilusi kenabian dan kepemimpinan karismatik cenderung melanggar batas-batas kemanusiaan dan norma sosial demi mempertahankan kekuasaan atau pengaruh kelompok mereka tanpa landasan yang rasional.