home global news

Menanggapi artikel Prof Dr Euis Amalia M.Ag: Ekonomi Syariah sebagai Lokomotif Kedaulatan Ekonomi Nasional

Ekonomi Syariah: Antara Narasi Lokomotif dan Tantangan Realitas

Kamis, 07 Mei 2026 - 09:09 WIB
Ekonomi Syariah: Antara Narasi Lokomotif dan Tantangan Realitas
Oleh: Prof. Dr. M. Farid Wajdi, Guru Besar Ilmu Manajemen UMS Surakarta

LANGIT7.ID-Gagasan menjadikan ekonomi syariah sebagai lokomotif kedaulatan ekonomi nasional terus menguat dalam wacana publik. Narasi ini tidak hanya menarik secara ideologis, tetapi juga menjanjikan jalan untuk keluar dari ketimpangan ekonomi, ketergantungan pada sistem global berbasis bunga, serta rapuhnya fondasi ekonomi domestik. Dalam narasi idealnya, ekonomi syariah sebagai misi luhur bukan sekadar pilihan, tetapi solusi.

Namun, di balik optimisme misi tersebut, dari sudut pandang manajemen strategi terdapat kenyataan yang lebih kompleks, ekonomi syariah tidak berkembang dalam ruang kosong. Konsep ini lahir, tumbuh, dan berjuang dalam sistem global yang sejak awal tidak sepenuhnya netral.



Momentum Sejarah yang Menghilang


Dalam mengkaji peran ekonomi syariah kita perlu menengok ke belakang. Sejarah mencatat bahwa pada era 1970-an, perbankan Islam pernah berada pada momentum strategis. Dunia Islam mulai merintis sistem keuangan tanpa bunga sebagai alternatif terhadap kapitalisme berbasis riba. Institusi seperti Mit Ghamr Savings Bank dan Islamic Development Bank menjadi simbol awal kebangkitan tersebut. Bahkan, pada titik tertentu, muncul keyakinan bahwa sistem keuangan berbasis bagi hasil ini berpotensi mengganggu dominasi dolar global.

Namun momentum itu tidak berlangsung lama. Tahun 1974 menjadi titik kunci yang mengubah arah. Pada tahun 1974, Amerika Serikat mengambil langkah strategis dengan mengirim utusan ke Arab Saudi. Misinya jelas, yaitu memastikan bahwa aliran dana minyak dunia tetap terikat dalam sistem keuangan berbasis dolar, bukan berkembang menjadi sistem independen tanpa bunga dalam sistem ekonomi Islam. Kesepakatan pun terjadi. Sebagai imbalan atas pemberian jaminan stabilitas politik dan keamanan, elit penguasa Saudi bersedia menjual minyak dalam denominasi dolar, dan menginvestasikan surplus minyak dalam instrumen keuangan AS. Inilah yang kemudian dikenal sebagai sistem petrodollar, sebuah konfigurasi yang secara efektif mengunci arsitektur ekonomi global hingga hari ini.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya