Jangan Remehkan Penentuan Arah Kiblat, Ini 6 Kesalahan yang Kerap Terjadi
Akbar Nurqadri
Kamis, 15 Juli 2021 - 07:09 WIB
Ilustrasi penentuan kiblat dengan aplikasi GPS. (Foto: Istimewa).
LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam di Nusantara pada zaman dulu biasanya menentukan arah kiblat dengan melihat fenomena alam seperti matahari jika ingin melaksanakan shalat. Pedoman ini juga dipakai saat ingin mendirikan masjid.
Ketika itu posisi matahari tenggelam lah acuannya. Untuk di Indonesia sendiri kiblat berada di 112 derajat barat laut. Koordinat itu langsung mengarah ke Ka'bah.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebutkan bahwa dalam penentuan arah kiblat ada lima cara yang digunakan, yakni menggunakan alat bantu tongkat Istiwa, kompas, rashd al-qiblah global, rashd al-qiblah local, dan theodolit.
Metode penentuan arah kiblat pada priode awal menggunakan miqyas atau tongkat Istiwa. Cara ini memanfaatkan bayangan matahari untuk menentukan arah barat dan timur.
Setelah ditentukan arah barat dan timur, kemudian menentukan arah kiblat menggunakan Rubu’ Mujayyab untuk mengukur koordinat arah kiblat.
Selain menggunakan tongkat Istiwa, bayangan matahari juga dapat dimanfaatkan dalam penentuan arah kiblat dengan metode rashd al-qiblah global dan rashd al-qiblah local.
Rashd al-qiblah global yakni matahari berada di atas kota Mekkah. Saat momentum ini terjadi, bayangan yang terbentuk mengarah ke kota Makkah.
Ketika itu posisi matahari tenggelam lah acuannya. Untuk di Indonesia sendiri kiblat berada di 112 derajat barat laut. Koordinat itu langsung mengarah ke Ka'bah.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebutkan bahwa dalam penentuan arah kiblat ada lima cara yang digunakan, yakni menggunakan alat bantu tongkat Istiwa, kompas, rashd al-qiblah global, rashd al-qiblah local, dan theodolit.
Metode penentuan arah kiblat pada priode awal menggunakan miqyas atau tongkat Istiwa. Cara ini memanfaatkan bayangan matahari untuk menentukan arah barat dan timur.
Setelah ditentukan arah barat dan timur, kemudian menentukan arah kiblat menggunakan Rubu’ Mujayyab untuk mengukur koordinat arah kiblat.
Selain menggunakan tongkat Istiwa, bayangan matahari juga dapat dimanfaatkan dalam penentuan arah kiblat dengan metode rashd al-qiblah global dan rashd al-qiblah local.
Rashd al-qiblah global yakni matahari berada di atas kota Mekkah. Saat momentum ini terjadi, bayangan yang terbentuk mengarah ke kota Makkah.