Di Balik Cadar sang Filsuf: Dekonstruksi Pemikiran Omar Khayyam dalam Perspektif Sufisme Modern
Miftah yusufpati
Kamis, 14 Mei 2026 - 03:00 WIB
Metafora anggur yang sering disalahpahami sebagai bentuk hedonisme sebenarnya adalah kiasan bagi marifat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Nama Omar Khayyam telah lama menjadi penghuni tetap dalam ruang literatur Eropa, namun ironisnya, ia hadir dalam rupa yang terdistorsi. Adalah Edward Fitzgerald, pada zaman Victoria, yang mempopulerkan beberapa kuartrin Khayyam ke dalam bahasa Inggris. Namun, popularitas itu dibayar mahal dengan sebuah kesalahpahaman intelektual yang fatal: Fitzgerald membayangkan Khayyam sebagai sosok yang didera perubahan pemikiran karena ucapan-ucapannya yang sering kali bertentangan secara luas.
Idries Shah dalam Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat menengarai bahwa sikap ini adalah karakteristik akademisi yang gagal membedakan antara subjek dan objek identifikasi. Lebih jauh lagi, Fitzgerald dianggap bersalah atas penyisipan propaganda anti-Sufi dalam rujukannya mengenai Khayyam—sebuah ketidakjujuran luar biasa yang sering kali diabaikan oleh para pendukungnya demi mempertahankan estetika penerjemahannya. Akibatnya, Khayyam tetap dikenang sebagai penyair, namun hakikatnya sebagai seorang filsuf, ilmuwan, dan pelatih penting dalam Sufisme tetap tidak terkenal secara utuh.
Puisi-puisi Khayyam sejatinya adalah puisi ajaran yang berpijak pada terminologi dan alegori khusus Sufisme. Rahasia ini, sebagaimana tersirat dalam baris puisinya, memang harus tersimpan dari orang bodoh; sebuah misteri yang menuntut Sang Penglihat untuk tersembunyi dari pandangan awam. Dalam dunia Khayyam, lingkaran dunia ini ibarat sebuah cincin di mana ummat manusia hanyalah Naqsy atau rancangan dari ketetapan-Nya.
Khayyam juga mengkritik dikotomi ketakutan akan neraka dan mimpi tentang surga yang kerap menghuni bilik-bilik biara maupun gereja. Baginya, mereka yang benar-benar mengetahui rahasia Tuhannya tidak akan menanam benih ketakutan atau pamrih semacam itu dalam hatinya. Kemanusiaan universal dalam pandangan Sufi ini mengantar putra-putri Adam melampaui ego dimensi materialnya.
Metafora 'anggur' yang sering disalahpahami sebagai bentuk hedonisme sebenarnya adalah kiasan bagi ma’rifat. Khayyam menegaskan bahwa meskipun anggur dilarang, nilainya bergantung pada siapa yang meminumnya, seberapa banyak, dan dengan siapa ia mabuk. Jika syarat kesucian itu dipenuhi, maka sang bijaklah yang paling berhak meminumnya. Baginya, darah musuh iman yang sah adalah metafora perlawanan terhadap kebatilan dan kebodohan.
Sebuah investigasi menyeluruh oleh Swami Govinda Tirtha pada 1941 melalui karya The Nectar of Grace sebenarnya telah memberikan kata akhir mengenai makna materi Khayyam dalam bahasa Inggris. Sayangnya, hanya sedikit sarjana Barat yang memanfaatkan karya esensial ini. Khayyam tetap dipandang sebagai "lentera imajinasi" dalam lampu, sebuah entitas yang mendefinisikan dirinya sendiri dengan berkata: "Aku adalah diriku; apakah Aku, Aku".
Pesan penutup Khayyam bagi para musafir kehidupan sangat jelas: manusia bukanlah emas yang akan dicari lagi setelah diletakkan di bumi. Maka, ambillah beberapa saripati spiritual dari dunia ini menuju keabadian di sana, sebab seseorang tidak akan beruntung jika harus menghadap Sang Pencipta dengan tangan hampa. Ibadah dan ketaatan bukan lagi soal formalitas ritual, melainkan upaya memisahkan diri dari keburukan demi mencapai lingkungan kemanusiaan yang benar.
Idries Shah dalam Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat menengarai bahwa sikap ini adalah karakteristik akademisi yang gagal membedakan antara subjek dan objek identifikasi. Lebih jauh lagi, Fitzgerald dianggap bersalah atas penyisipan propaganda anti-Sufi dalam rujukannya mengenai Khayyam—sebuah ketidakjujuran luar biasa yang sering kali diabaikan oleh para pendukungnya demi mempertahankan estetika penerjemahannya. Akibatnya, Khayyam tetap dikenang sebagai penyair, namun hakikatnya sebagai seorang filsuf, ilmuwan, dan pelatih penting dalam Sufisme tetap tidak terkenal secara utuh.
Puisi-puisi Khayyam sejatinya adalah puisi ajaran yang berpijak pada terminologi dan alegori khusus Sufisme. Rahasia ini, sebagaimana tersirat dalam baris puisinya, memang harus tersimpan dari orang bodoh; sebuah misteri yang menuntut Sang Penglihat untuk tersembunyi dari pandangan awam. Dalam dunia Khayyam, lingkaran dunia ini ibarat sebuah cincin di mana ummat manusia hanyalah Naqsy atau rancangan dari ketetapan-Nya.
Khayyam juga mengkritik dikotomi ketakutan akan neraka dan mimpi tentang surga yang kerap menghuni bilik-bilik biara maupun gereja. Baginya, mereka yang benar-benar mengetahui rahasia Tuhannya tidak akan menanam benih ketakutan atau pamrih semacam itu dalam hatinya. Kemanusiaan universal dalam pandangan Sufi ini mengantar putra-putri Adam melampaui ego dimensi materialnya.
Metafora 'anggur' yang sering disalahpahami sebagai bentuk hedonisme sebenarnya adalah kiasan bagi ma’rifat. Khayyam menegaskan bahwa meskipun anggur dilarang, nilainya bergantung pada siapa yang meminumnya, seberapa banyak, dan dengan siapa ia mabuk. Jika syarat kesucian itu dipenuhi, maka sang bijaklah yang paling berhak meminumnya. Baginya, darah musuh iman yang sah adalah metafora perlawanan terhadap kebatilan dan kebodohan.
Sebuah investigasi menyeluruh oleh Swami Govinda Tirtha pada 1941 melalui karya The Nectar of Grace sebenarnya telah memberikan kata akhir mengenai makna materi Khayyam dalam bahasa Inggris. Sayangnya, hanya sedikit sarjana Barat yang memanfaatkan karya esensial ini. Khayyam tetap dipandang sebagai "lentera imajinasi" dalam lampu, sebuah entitas yang mendefinisikan dirinya sendiri dengan berkata: "Aku adalah diriku; apakah Aku, Aku".
Pesan penutup Khayyam bagi para musafir kehidupan sangat jelas: manusia bukanlah emas yang akan dicari lagi setelah diletakkan di bumi. Maka, ambillah beberapa saripati spiritual dari dunia ini menuju keabadian di sana, sebab seseorang tidak akan beruntung jika harus menghadap Sang Pencipta dengan tangan hampa. Ibadah dan ketaatan bukan lagi soal formalitas ritual, melainkan upaya memisahkan diri dari keburukan demi mencapai lingkungan kemanusiaan yang benar.
(mif)