LANGIT7.ID, Jakarta,- - Pembawa acara atau MC
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Provinsi
Kalimantan Barat, Shindy Lutfiana ikut terseret dalam
polemik acara tersebut. Publik menilai sikap Shindy Lutfiana di LCC MPR RI tidak netral, khususnya pada Josepha Alexandra, peserta dari SMAN 1 Pontianak.
Pernyataan Shindy yang menyebut "Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja" usai mendengar protes dari Josepha Alexandra dianggap tidak sesuai dengan kewenangannya sebagai pembawa acara.
Baca juga: Soal Polemik Lomba Cerdas Cermat, MPR Minta Maaf: Juri dan MC DinonaktikanSikapnya yang terekam dan viral di media sosial langsung menjadi sorotan publik. Akibatnya Shindy banjir hujatan dan kehilangan banyak pekerjaan.
"Ketika aku membaca ribuan komentar dari netizen, hampir semua isinya hujatan untuk aku. Semua kata-kata isi kebun bintang keluar, sumpah serapah aku terima, sampai seruan boikot Shindy MC," tulis Shindy dikutip Rabu, 13 Mei 2026.
Ia pun mengonfirmasi bahwa tuntutan warganet tentang pemboikotan dirinya debgan tidak lagi digunakan jasanya sebagai pemandu acara telah menjadi kenyataan.
"Aku hilang pekerjaan. Aku bisa menerima itu semua dengan tabah, sabar, ini memang resiko yang harus aku terima atas kesalahanku," katanya.
Menyadari akan kesalahannya, Shindy Lutfiana langsung membuat permohonan maaf lewat Insta Story, atas sikapnya di acara LCC Empat Pilar MPR RI.
Baca juga: MPR RI Bakal Gelar Ulang Final Lomba Cerdas Cermat di Kalbar"Melalui unggahan ini, saya Shindy Lutfiana selaku MC pada kegiatan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat yang diselenggarakan pada tanggal 9 Mei 2026. Mohon izin untuk menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan saya yang beredar luas di media sosial saat pelaksanaan Babak Final berlangsung," tulis Shindy Lutfiana pada Rabu (13/5/2026).
Shindy mengakui bahwa sebagai pembawa acara seharusnya tidak bersikap dan memberi pernyataan yang menyudutkan hingga menimbulkan kekecewaan.
"Saya menyadari sepenuhnya bahwa pernyataan tersebut telah menimbulkan kekecewaan, ketidaknyamanan, bahkan melukai perasaan berbagai pihak. Khususnya adik-adik peserta lomba, guru pendamping/pembimbing dari SMAN 1 Pontianak, serta seluruh masyarakat terutama masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat yang mengikuti dan memberi perhatian pada lomba ini," lanjutnya.
Baca juga: Berani Protes Juri LCC MPR, Josepha Alexandra Ditawari Kuliah Gratis di ChinaShindy menegaskan bahwa insiden tersebut menjadi pembelajaran yang berharga baginya untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan diksi saat menjalankan tugas di ruang publik.
"Peristiwa ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk lebih berhati-hati, bijaksana, serta lebih cermat dalam memilih dan menggunakan diksi ketika menjalankan tugas di ruang publik,"
"Besar harapan saya, permohonan maaf saya dapat diterima dan saya berkomitmen untuk menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi diri saya agar dapat lebih baik dan bijak ke depannya," pungkasnya.
(est)