Puasa Sunnah Dzulhijjah 2026: Jadwal, Bacaan Niat dan Keutamaan
Esti setiyowati
Ahad, 17 Mei 2026 - 12:05 WIB
Puasa Sunnah Dzulhijjah 2026: Jadwal, Bacaan Niat dan Keutamaan. Foto: Pexels/Sammi Abdullah
Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan termasuk bagian dari asyhurul hurum, bersama Dzulqa’adah, Muharram, dan Rajab.
Keutamaan bulan-bulan ini menjadikan setiap amalan memiliki nilai yang lebih besar di sisi Allah. Perbuatan maksiat akan mendapat ancaman yang lebih berat, sementara amal saleh dan ketaatan dilipatgandakan pahalanya.
Baca juga: Kenapa 9 Dzulhijjah Disebut Hari Arafah? Ini Penjelasan Imam Fakhruddin Al-Razi
Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah berpuasa sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Ibadah sunnah ini terdiri dari puasa tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah, puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Hal ini ditegaskan dalam hadis: “dari Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw (diriwayatkan bahwa) ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Keutamaan bulan-bulan ini menjadikan setiap amalan memiliki nilai yang lebih besar di sisi Allah. Perbuatan maksiat akan mendapat ancaman yang lebih berat, sementara amal saleh dan ketaatan dilipatgandakan pahalanya.
Baca juga: Kenapa 9 Dzulhijjah Disebut Hari Arafah? Ini Penjelasan Imam Fakhruddin Al-Razi
Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah berpuasa sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Ibadah sunnah ini terdiri dari puasa tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah, puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Hal ini ditegaskan dalam hadis: “dari Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw (diriwayatkan bahwa) ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)