Ulama asal Cilacap, Habib Ghozali, menjelaskan bahwa tidak ada dalil shahih yang menyebut Nabi Muhammad SAW menganjurkan puasa sunnah penuh selama 10 hari pertama Dzulhijjah.
Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah berpuasa sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Ibadah sunnah ini terdiri dari puasa tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah, puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Zikir berupa takbir, tasbih, dan doa merupakan amalan shalih yang disyariatkan pada seluruh waktu dan dalam setiap keadaan, kecuali pada kondisi yang dilarang.
Mendapati 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah salah satu nikmat besar dari nikmat-nikmat Allah. Manis dan lezatnya hari-hari ini hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang salih.
Malam-malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Inilah penafsiran yang benar menurut mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan lainnya. Penafsiran ini juga sahih dari Ibnu Abbas.
Ibadah haji merupakan amal yang paling agung setelah iman dan jihad. Ia merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang paling utama, yang menghapus dosa-dosa sebelumnya.
Dzulhijjah termasuk empat bulan yang dimuliakan Allah swt (asyhurul hurum). Melakukan amal ibadah pada bulan Dzulhijjah tentu akan mendapatkan pahala yang sangat istimewa.
Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang menyimpan banyak hikmah dan keistimewaan. Selain itu, Dzulhijjah juga menjadi salah satu dari empat bulan haram
Allah Swt amat mencintai amalan yang dilakukan hamba-Nya pada 10 hari pertama di bulan dzulhijah. Sebab itu terdapat anjuran memperbanyak amalan ibadah