LANGIT7.ID-
Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi mengatakan
zikir berupa
takbir, tasbih, dan doa merupakan amalan shalih yang disyariatkan pada seluruh waktu dan dalam setiap keadaan, kecuali pada kondisi yang dilarang. Allah berfirman: "
Ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring." (QS. an-Nisa’: 103)
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada satu hari pun yang lebih agung dan lebih dicintai oleh Allah untuk beramal shalih di dalamnya daripada sepuluh hari ini. Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut." (HR. Ahmad 7/224. Sanadnya dinilai bagus oleh Imam al-Mundziri dalam *at-Targhib wa at-Tarhib* 2/224; lihat pula *al-Irwaa* 3/398)
Disebutkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bertakbir di dalam tendanya di Mina. Suaranya terdengar sampai ke masjid, lalu orang-orang pun ikut bertakbir. Bahkan orang-orang di pasar juga ikut bertakbir, hingga Mina dipenuhi dengan suara takbir. (HR. Bukhari secara mu’allaq 2/25. Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan sanadnya bersambung sampai ke Ibnu Umar dalam *Fathul Bari* 2/462)
Baca juga: Berdzikir Sebaiknya Lirih atau Keras, Berikut Saran Gus Baha Melakukan Ibadah HajiDalam bukunya berjudul "Keagungan Hari Arafah", Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi menjelaskan bagi mereka yang dikaruniai Allah kecukupan rezeki, hendaknya menunaikan ibadah haji, karena haji adalah kewajiban dan rukun Islam.
Barangsiapa yang menunaikan haji sesuai tuntunan syariat, insya Allah ia termasuk dalam sabda Nabi ﷺ: "Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga." (HR. Bukhari: 1683, Muslim: 1349)
Kriteria Haji Mabrur:1. Ikhlas.Berhaji hanya mengharap pahala dari Allah, bukan karena pamer, kebanggaan, atau sekadar agar dipanggil "Pak Haji" atau "Bu Haji".
"Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan." (QS. al-Bayyinah: 5)
2. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺBerhaji sesuai tata cara Nabi ﷺ dan menjauhi bid’ah dalam manasik. "Contohlah cara manasik hajiku!" (HR. Muslim: 1297)
3. Menggunakan harta yang halal. Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik." (HR. Muslim: 1015)
Baca juga: Kumpulan Dzikir dan Doa Bulan Rajab, Amalkan Mulai Malam Tahun Baru 2025 4. Menjauhi maksiat dan perdebatan."Barangsiapa yang menetapkan niat untuk haji, maka tidak boleh berkata rafats (kata-kata kotor), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan selama masa haji." (QS. al-Baqarah: 197)
5. Berakhlak mulia, tawadhu', dan membantu sesama. Ibnu Abdil Barr berkata dalam *at-Tamhid* (22/39): "Haji mabrur adalah haji yang tidak mengandung riya’, sum’ah, kefasikan, dan dilaksanakan dengan harta yang halal."
BerkurbanBerkurban adalah ibadah yang disyariatkan berdasarkan dalil dari Al-Qur'an, hadits, dan ijma' para ulama.
Allah berfirman: "Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah." (QS. al-Kautsar: 2)
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan: "Nabi ﷺ tinggal di Madinah selama sepuluh tahun, dan beliau senantiasa berkurban." (HR. Tirmidzi: 1507; Ahmad 2/28 dengan sanad hasan. Disetujui oleh al-Albani dalam *Al-Misykah*: 1475)
Para ulama juga sepakat bahwa ibadah kurban adalah syiar dari syiar-syiar Islam. Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni berkata: "Kaum muslimin telah sepakat tentang disyariatkannya berkurban."
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: "Tidak ada perselisihan bahwa berkurban termasuk syiar agama Islam."
Baca juga: Empat Keutamaan Dzikir kepada Allah(mif)