Pengabdian Sutimah: 22 Tahun Mengajar, Tempuh Jarak Jauh dan Pernah Dibayar Rp50/bulan, Kini Berharap Dimutasi
Lusi mahgriefie
Selasa, 19 Mei 2026 - 11:52 WIB
Sutimah berharap agar dimutasi di sekolah yang dekat dengan rumah, karena alasan usia. Foto: dok. Kemendikdasmen
Sutimah, seorang guru sekolah dasar (SD) di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah teah mengabdikan dirinya selama 22 tahun. Tiap hari selepas subuh, ia sudah memulai perjalanan panjang menuju SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus, tempatnya mengajar.
Ia menghabiskan sekira empat jam di perjalanan, demi bisa berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak membaca serta menulis.
"Kurang lebih saya menghabiskan waktu 4 jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah dzuhur dan sampai di rumah pukul 16," tuturnya, mengutip laman Kemendikdasmen, Selasa (19/5/2026).
Meski harus menempuh jarak jauh, tak membuat semangat surut. Bagi Sutimah, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa yang ia pegang teguh sejak lama. Kecintaannya kepada anak-anak membuatnya tetap bertahan, meski harus menempuh jarak lintas kabupaten setiap hari.
"Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental," ucapnya.
Kisah Sutimah menjadi potret nyata perjuangan banyak guru di Indonesia yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi di tengah keterbatasan. Selama 22 tahun mengabdi, ia telah melewati berbagai tantangan sebagai tenaga pendidik.
Pada tahun 2004 hingga 2010, Sutimah mengajar dengan status Guru Wiyata Bakti atau guru honorer. "Tahun 2004 saya mulai mengajar. Dua tahun kemudian dapat bayaran Rp50 ribu per bulan. Lalu tahun 2008-2010 dapat bayaran Rp220 ribu," kenangnya.
Ia menghabiskan sekira empat jam di perjalanan, demi bisa berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak membaca serta menulis.
"Kurang lebih saya menghabiskan waktu 4 jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah dzuhur dan sampai di rumah pukul 16," tuturnya, mengutip laman Kemendikdasmen, Selasa (19/5/2026).
Meski harus menempuh jarak jauh, tak membuat semangat surut. Bagi Sutimah, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa yang ia pegang teguh sejak lama. Kecintaannya kepada anak-anak membuatnya tetap bertahan, meski harus menempuh jarak lintas kabupaten setiap hari.
"Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental," ucapnya.
Kisah Sutimah menjadi potret nyata perjuangan banyak guru di Indonesia yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi di tengah keterbatasan. Selama 22 tahun mengabdi, ia telah melewati berbagai tantangan sebagai tenaga pendidik.
Pada tahun 2004 hingga 2010, Sutimah mengajar dengan status Guru Wiyata Bakti atau guru honorer. "Tahun 2004 saya mulai mengajar. Dua tahun kemudian dapat bayaran Rp50 ribu per bulan. Lalu tahun 2008-2010 dapat bayaran Rp220 ribu," kenangnya.