Etika Komunikasi dan Pertemanan Jamaah Haji dalam Tinjauan Fikih Safar
Miftah yusufpati
Selasa, 19 Mei 2026 - 17:00 WIB
Dalam lingkaran pertemanan selama ibadah haji, terdapat adab atau etika ketat. Ilustrasi: Aljazeera
LANGIT7.ID- Ibadah haji adalah sebuah perjalanan spiritual terbesar yang mengumpulkan jutaan manusia dalam satu ritme gerak yang sama. Namun, di balik dimensi vertikal pencarian rida Ilahi, haji juga merupakan sebuah ujian horizontal yang sangat nyata bagi relasi antarmanusia.
Dalam dunia sosiologi agama, safar atau perjalanan jarak jauh sering kali dipandang sebagai katalisator yang menyingkap topeng-topeng sosial seseorang. Melalui kepenatan fisik, antrean yang menjemukan, dan keterbatasan ruang, di sanalah akhlak asli seorang manusia akan ketahuan dan diuji secara telanjang.
Abdulmalik al-Qosim dalam risalah Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina mengingatkan bahwa dalam lingkaran pertemanan selama ibadah haji, terdapat adab atau etika ketat yang sebaiknya dipahami secara mendalam oleh setiap jamaah. Salah satu batu sandungan terbesar dalam menjaga keharmonisan pertemanan di tanah suci adalah ketidakmampuan mengendalikan lisan.
Al-Qosim mengimbau agar para jamaah menghindari kebiasaan banyak bertanya, mendetailkan urusan pribadi orang lain, serta berbicara tentang segala sesuatu yang tidak memiliki urgensi spiritual.
Kecenderungan untuk mencampuri urusan orang lain atau sekadar bergosip demi mengusir kejenuhan di tenda-tenda maktab merupakan penyakit komunikasi yang dapat merusak pahala ibadah. Batasan moral ini ditegaskan secara yuridis-teologis melalui sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
مَنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
Artinya: Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya (tidak bermanfaat).
Dalam dunia sosiologi agama, safar atau perjalanan jarak jauh sering kali dipandang sebagai katalisator yang menyingkap topeng-topeng sosial seseorang. Melalui kepenatan fisik, antrean yang menjemukan, dan keterbatasan ruang, di sanalah akhlak asli seorang manusia akan ketahuan dan diuji secara telanjang.
Abdulmalik al-Qosim dalam risalah Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina mengingatkan bahwa dalam lingkaran pertemanan selama ibadah haji, terdapat adab atau etika ketat yang sebaiknya dipahami secara mendalam oleh setiap jamaah. Salah satu batu sandungan terbesar dalam menjaga keharmonisan pertemanan di tanah suci adalah ketidakmampuan mengendalikan lisan.
Al-Qosim mengimbau agar para jamaah menghindari kebiasaan banyak bertanya, mendetailkan urusan pribadi orang lain, serta berbicara tentang segala sesuatu yang tidak memiliki urgensi spiritual.
Kecenderungan untuk mencampuri urusan orang lain atau sekadar bergosip demi mengusir kejenuhan di tenda-tenda maktab merupakan penyakit komunikasi yang dapat merusak pahala ibadah. Batasan moral ini ditegaskan secara yuridis-teologis melalui sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
مَنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
Artinya: Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya (tidak bermanfaat).